JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) acuan untuk kontrak Juni diperkirakan kembali melemah, Selasa (27/3/2018), setelah kemarin ditutup menguat.
  
Pada perdagangan Senin (26/3/2018), harga CPO ditutup pada harga RM2.434, lebih tinggi dibandingkan hari perdagangan sebelumnya berkat sentimen positif pelaku pasar mengenai ekspektasi peningkatan permintaan ekspor CPO bulan ini, kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Selasa.

Dukungan pemulihan harga CPO di Bursa Malaysia kemarin, kata Arie, juga karena secara teknikal terjadi rebound pada harga CPO di level harga rendah harian sebelumnya, sementara untuk penurunan harga minyak mentah dunia yang terjadi pada Senin akibat ketegangan antara Saudi versus Iran, tidak terlalu mempengaruhi harga CPO.

Namun demikian, kemungkinan perang dagang antara Amerika Serikat - China memiliki potensi mempengaruhi harga CPO. Apalagi China pada akhir pekan lalu telah mengumumkan rencana pengenaan tarif hingga $3 milliar untuk impor Amerika Serikat sebagai balasan terhadap pengenaan tarif pada produk baja dan aluminiumnya. 

"Harga acuan CPO diperkirakan bisa tertekan karena pada periode ini mendekati pengenaan kembali pajak ekspor sebesar 5% oleh otoritas Bursa Malaysia pada 7 April mendatang setelah selama tiga bulan dilakukan suspensi," ujarnya. 

--page

Sementara itu, pada sesi pertama perdagangan Selasa ini, pergerakan harga CPO berada pada level RM2.420. 

"Pada perdagangan hari ini terdapat peluang untuk penguatan harga CPO, dengan perlu adanya penembusan pada level resisten di kisaran RM2.436 (r1), RM2.453 (r2), dan RM2.476 (r3). Terbuka juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support pada kisaran harga di RM2.411 (s1), RM2.396 (s2), dan RM2.373 (s3)," imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)