JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri kelapa sawit domestik menghadapi tantangan berat akibat pengenaan bea impor cukup tinggi di negara tujuan ekspor. 

"Perang tarif hal normal, jadi kami tetap optimistis," kata Direktur Utama Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), Andrianto Oetomo, di Jakarta, Selasa (3/4/2018), menanggapi prospek ekspor sawit nasional.

Sejumlah tantangan ekspor tengah membelit industri sawit nasional. Misalnya India, yang sejak tahun lalu menaikkan tarif impor CPO dua kali lipat dari 7,5% menjadi 15%, dan minyak sawit olahan dari 15% menjadi 25%. 

"Bahkan tarif itu masih akan dinaikkan lagi menjadi 44% dan 54%, sedangkan palm oil (minyak sawit) masih kompetitif," papar Andrianto.

Tahun ini, Dharma Satya Nusantara berencana membangun satu pabrik kelapa sawit (PKS) baru di Kalimantan Barat. Pabrik baru itu berkapasitas 30 ton per jam.

--page

Dengan pengoperasian pabrik baru itu, total kapasitas PKS milik perseroan mencapai 480 ton per jam. Perseroan juga tengah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa di Kalimantan Timur (Kaltim).

Produksi CPO perusahaan tahun lalu meningkat 29% menjadi 403,6 ribu ton. Dengan harga jual rata-rata minyak sawit sebesar Rp 8,1 juta per ton. 

"Naik sekitar 8% dibandingkan 2016. Perseroan memiliki 13 kebun dan 7 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 450 ton TBS per jam, kemudian 1 kernel crushing plant memproduksi Palm Kernel Oil (PKO) dengan kapasitas 200 ton per hari. Segmen usaha kelapa sawit berkontribusi 83%," ujar Andrianto.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menambahkan, saat ini dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia sangat besar. 

"Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dalam memajukan sektor kelapa sawit nasional," tutur Joko. (NEDELYA RAMADHANI/m)