JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah gonjang-ganjing perseteruan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dengan saling menerapkan tarif terhadap sejumlah komoditas, dinilai akan mempengaruhi perekonomian dunia.

Hal itu bahkan sudah terlihat dari pergerakan naik turun harga minyak sawit mentah (CPO) pada pekan ini. Pada perdagangan Selasa (3/4/2018), transaksi CPO ditutup pada harga RM2.436, lebih rendah dari harga penutupan pada hari sebelumnya. Transaksi CPO di Bursa Malaysia, Rabu (4/4/2018), sempat mencapai harga hingga kisaran tertingginya di RM2.456. 

Namun, aksi ambil untung, di mana para spekulan membukukan keuntungan pada tingkat harga yang lebih tinggi terjadi pada hari perdagangan Selasa. Berkurangnya permintaan akan komoditas CPO di pasar spot terhadap pasokan yang memadai, turut mempengaruhi penurunan harga hingga penutupan Selasa, kata analis Monex Investindo Futures, Arie Nurhadi, di Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Pada Rabu, Kementerian Keuangan China resmi mengeluarkan pernyataan mengenai pengenaan tarif balasan pada 106 produk Amerika Serikat. 

China akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen pada 106 produk asal AS, termasuk di dalamnya adalah kedelai, mobil, bahan kimia, beberapa jenis pesawat dan produk jagung. Belum secara spesifik apakah minyak kelapa sawit termasuk dalam program tersebut.

--page

Adapun pada sesi pertama perdagangan Rabu di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, harga minyak sawit berjangka untuk kontrak Juni sempat turun 0,1% menjadi RM2.456 (US$635,61) per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)