BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski mengalami pergerakan dalam kisaran sempit, namun harga minyak sawit mentah (CPO) mulai mendapatkan sentimen positif dari penerapan tarif tinggi bagi impor kedelai dari Amerika Serikat.
Langkah China menaikkan tarif bagi produk impor dari AS itu sebagai aksi balasan atas langkah serupa yang diterapkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah produk impor dari China.
Pada perdagangan Rabu (4/4/2018) transaksi CPO ditutup RM18 lebih tinggi dibandingkan penutupan pada hari perdagangan sebelumnya pada harga RM2.454. Transaksi CPO di Bursa Malaysia pada Rabu itu sempat mencapai harga hingga kisaran tertingginya di RM2.478.
"CPO mendapatkan benefit dari langkah terbaru China untuk memberlakukan tarif 25% pada impor kedelai dari Amerika Serikat. China adalah pengimpor kedelai terbesar di dunia dan juga pembeli terbesar kedelai Amerika Serikat dengan nilai transaksi diperkirakan sebesar $14 miliar pada tahun lalu, sementara China adalah pasar ekspor terbesar ketiga untuk CPO Malaysia pada 2017," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya akhir pekan ini.
Sentimen positif pelaku pasar terhadap CPO itu telah membalikkan dari posisi melemah pada hari perdagangan sebelumnya untuk menutup RM18 lebih tinggi pada RM2.454 di akhir sesi perdagangan. Potensi tarif tambahan pada kedelai AS berpotensi menyebabkan harga kedelai yang lebih tinggi di China, dan harga domestik yang lebih tinggi ini diprediksi akan menyebabkan melemahnya permintaan untuk komoditi tersebut.
--page
"Minyak sawit dapat menjadi salah satu pengganti minyak edibel di China, dengan harganya yang relatif lebih rendah dari minyak kedelai. Permintaan yang kuat untuk minyak sawit akan membantu mendukung atau meningkatkan harga minyak sawit itu sendiri," ujar Arie.
Sementara itu, harga minyak sawit berjangka untuk kontrak Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Kamis (5/4/2018), naik 0,7% menjadi 2.472 ringgit (US$639,59) per ton pada akhir perdagangan. Sebelum penutupan, harga minyak sawit sempat menembus 2.478 ringgit per ton, yang merupakan level tertinggi sejak 7 Maret. (NEDELYA RAMADHANI/m)








