JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tekanan diperkirakan masih akan dirasakan minyak sawit mentah (CPO) dalam jangka pendek seiring dengan sejumlah sentimen negatif yang mempengaruhi pasar.

Sentimen itu salah satunya adalah ekspektasi meningkatnya produksi untuk periode April sesuai tren yang terjadi. Produksi minyak sawit Malaysia tumbuh 17,2% on-month menjadi 1,57 juta ton pada Maret, yang merupakan level produksi tertinggi sejak 2000.

Di sisi lain, permintaan minyak sawit pada April, diperkirakan mendatar. Pengapalan CPO dari Malaysia selama pekan kedua April naik antara 5% hingga 6% dibandingkan bulan sebelumnya, bandingkan dengan periode 1-10 April yang meningkat 25%-32%.

Sedangkan minyak nabati lain, yakni minyak kedelai di Chicago Board of Trade untuk kontrak Mei ditutup naik 0,4%, Rabu (18/4/2018), dan di Dalian Commodity Exchange, China, naik 1,2%.

Pada perdagangan Rabu, minyak sawit kembali melanjutkan pelemahannya dan menjadi pelemahan ketujuh dari delapan perdagangan terakhir, kata pelaku pasar di bursa komoditas Jakarta, Kamis (19/4/2018). 

--page

Harga CPO untuk kontrak Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange sempat turun 0,7% di level at RM2.391 (US$614,81) per ton pada sesi pertama perdagangan Rabu.

Pada sesi sehari sebelumnya, harga minyak sawit melonjak 1,6%, setelah enam sesi sebelumnya turun.

Menurut pelakau pasar tadi, sentimen yang beredar di pasar tidak cukup kuat untuk mendorong penguatan harga CPO karena minimnya berita-berita positif. (NEDELYA RAMADHANI/m)