JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Senin (30/4/2018) ditutup di level RM2.362, dengan histori harga rendah (Low) di RM2.356, dan harga tinggi (High) di RM2.382.

"Sejak awal pekan ini, komoditas CPO Malaysia berada pada level terendah dalam kurun waktu dua pekan, dipengaruhi oleh rilis data ekspor yang menurun, mengacu pada data pengiriman dari AmSpec Agri Malaysia serta surveyor kargo Societe Generale de Surveillance (SGS)," kata Analis PT MOnex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya, Rabu (2/5/2018).

Ekspor CPO Malaysia turun 5,7 persen untuk periode April dibandingkan dengan Maret, berdasarkan data AmSpec Agri Malaysia. Sementara Societe Generale de Surveillance menyampaikan dengan data penurunan sebesar 4,5 persen untuk periode yang sama karena berkurangnya permintaan dari India.

"Adapun harga CPO mengalami kenaikan di awal perdagangan hari Rabu ini, yang rebound dari penurunan tajam pada hari perdagangan sebelumnya dengan dukungan pelemahan mata uang Ringgit Malaysia," katanya. 

Depresiasi mata uang Ringgit Malaysia pada perdagangan CPO seperti biasa akan menjadikan komoditas tersebut menjadi 'lebih murah' bagi pemegang mata uang asing, dan hal ini pun secara langsung memberikan dukungan untuk terjadinya demand di bursa.

--page

Pada perdagangan Rabu ini, pergerakan harga CPO berada pada level RM2.377. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga RM2.369, harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.378, dan harga rendah (Low) di RM2.367.

"Potensi penguatan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.428 (resistance 3), RM2.410 (resistance 2) dan RM2.399 (resistance 1)," ujarnya.

Untuk potensi pelemahan yang dapat terjadi, imbuhnya, dengan acuan support di kisaran harga RM2.365 (support 1), RM2.349 (support 2), dan RM2.222 (support 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)