JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Beberapa analis memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO) dapat menguat menuju level RM2.400 per ton dalam jangka pendek, seiring dengan estimasi penurunan stok minyak sawit pada akhir April ke level terendah dalam enam bulan.

Menurut estimasi sebagian besar analis yang dirangkum The Edge Financial Daily, harga CPO akan bergerak di sekitar atau di atas level RM2.400, hingga RM2.600, mengacu pada ekspektasi penurunan stok dan meningkatnya permintaan.

Pasar memperkirakan kenaikan moderat untuk produksi, yakni dari stagnan hingga tumbuh 3%, dengan ekspor turun 5% hingga 6%.

“Tapi fokus pasar akan tertuju pada stok akhir bulan April, yang diperkirakan turun antara 2% hingga 3,9%,” kata Sathia Varqa, dari Palm Oil Analytics, Selasa (8/5/2018).

Ia menambahkan bahwa setiap penurunan di atas 4% akan mendorong harga acuan CPO kembali naik ke RM2.400. Namun demikian, situasi pemilu di Malaysia, sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar kedua dunia, juga dapat menjadi sentimen bagi pasar.    

Jika partai oposisi menang pemilu Malaysia, maka itu akan menekan ringgit Malaysia dan akan menekan harga saham emiten perkebunan dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang, nilai tukar ringgit akan menguat. (NEDELYA RAMADHANI/m)