JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam jangka pendek, pasar melihat prospek harga minyak sawit mentah (CPO) cukup cerah. Ada beberapa faktor yang dapat memacu kenaikan harga CPO, salah satunya adalah kesepakatan antara Indonesia dengan China untuk menambah ekspor komoditas itu.   

Menurut analis perkebunan dari TA Securities, Angeline Chin, harga CPO diperkirakan naik pada Juni mendatang dengan kisaran antara RM2.400 hingga RM2.600 per ton.

Ia menyebutkan bahwa harga acuan CPO telah naik tipis seiring dengan penurunan stok minyak sawit di Malaysia ke level terendah dalam enam bulan, setelah ekspor dan konsumsi domestik melampaui produksi. 

“Ekspektasinya adalah produksi akan mendatar hingga tumbuh 2%, dan ekspor akan meningkat selama Ramadan,” sebutnya.

Sedangkan proyeksi jangka menengah, analis dari MIDF Amanah Investment Bank Bhd, Alan Lim, mengatakan harga CPO dapat menguat ke level US$650 (RM2.561) per ton dalam tiga bulan ke depan.

--page

Hal ini mengacu pada kemungkinan adanya kenaikan pembelian dari China dari Indonesia, menyusul pernyataan dari PM China Li Keqiang yang mengatakan pihaknya terbuka untuk meningkatkan kuota impor minyak sawit dari Indonesia sedikitnya sebesar 500.000 ton. Pernyataan itu merespons pertemuan dirinya dengan Presiden Joko Widodo di Bogor beberapa waktu lalu. Saat ini China mengonsumsi minyak sawit sebanyak 5 juta ton.

“Kami positif dengan prospek harga CPO, karena kami memperkirakan stok akan turun secara bulanan. Dan dari sisi pasokan, meski diperkirakan produksi musiman lebih tinggi, tapi volume aktual bisa mengikuti estimasi konsensus karena adanya kegiatan replanting di Malaysia dan Indonesia,” imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)