JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Selasa (15/5/2018), pergerakan harga minyak sawit (CPO) sedang berada pada level RM2.425. 

Dengan perdagangan hari ini dibuka pada level RM2.429, sementara harga tinggi (High) tercatat di level RM2.431, dan harga rendah (Low) di RM2.414.

"Potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.448 (resistance 3), RM2.435 (resistance 2) dan RM2.428 (resistance 1)," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Sedangkan potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.381(support 1), RM2.340(support 2), dan RM2.335 (support 3). 

Adapun harga minyak sawit mentah (CPO) pada perdagangan Senin (14/5/2018) ditutup di level RM2.416, dengan histori pada hari perdagangan menyentuh harga rendah (Low) di RM2.406, harga tinggi (High) di RM2.452.

--page

"Harga CPO Malaysia melonjak ke level tertingginya dalam kurun waktu satu bulan pada pembukaan perdagangan Senin kemarin, yang merupakan sesi pertama hari perdagangan sejak kekalahan pemilihan umum yang mengejutkan dari koalisi pemerintahan negara tersebut setelah berkuasa selama enam dekade," 

Harga CPO naik sekitar 3 persen pada Senin, mencapai harga terkuat terhitung sejak 10 April 2018 pada kisaran RM2.452 dengan histori kenaikan terakhir dengan 2,3 persen saat harga menyentuh kisaran RM2.435.

Kenaikan harga CPO tersebut selain telah terjawabnya situasi politik di Malaysia, juga ditopang oleh (masih) melemahnya mata uang Ringgit Malaysia dengan setidaknya telah berlangsung selama empat bulan sepanjang tahun 2018 ini. Dengan kondisi Ringgit Malaysia yang lemah akan memberikan dukungan kepada harga CPO, utamanya bagi pelaku pasar pemegang mata uang asing.

Cadangan CPO Malaysia sebagai produsen terbesar kedua di dunia jatuh pada level terendah tujuh bulan pada akhir April 2018 dengan jumlah 2,17 juta ton, yang berarti lebih rendah dari ekspektasi pelaku pasar. (NEDELYA RAMADHANI/m)