JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan ini seiring dengan melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS dan dukungan dari penguatan harga minyak mentah dunia.

"Namun penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.503 (resistance 3), RM2.478 (resistance 2) dan RM2.458 (resistance 1)," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Sedangkan potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.432 (support 1), RM2.409 (support 2), dan RM2.390 (support 3), katanya. 

Perlu diketahui, CPO pada perdagangan Jumat (18/5/2018) ditutup di harga tingginya di RM2.450, dengan histori pada hari perdagangan menyentuh harga rendah (Low) di RM2.447 dan harga tinggi (High) di RM2.462.

Menurut Arie, harga CPO naik sebanyak 1 persen pada perdagangan akhir pekan lalu menuju harga tertinggi dalam kurun waktu lebih dari lima pekan, dengan masih ditopang oleh pelemahan mata uang Ringgit Malaysia.

--page

Harga acuan CPO untuk kontrak pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada awal sesi perdagangan akhir pekan lalu naik sebesar 1,2 persen menjadi RM2.462, terhitung menjadi yang tertinggi sejak 10 April 2018. 

Harga CPO naik bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada kisaran harga $72 per barrel dan Brent yang berada di atas harga $80 per barrel. 

Pada perdagangan akhir pekan lalu, CPO dipengaruhi oleh pergerakan minyak mentah dunia, karena minyak nabati digunakan sebagai bahan baku untuk membuat biodiesel. Harga minyak mentah dunia bertahan menguat pada Jumat karena permintaan yang kuat serta adanya pemangkasan pasokan yang dipimpin oleh OPEC selaku Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Mentah Dunia, juga adanya pengenaan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap Iran. (NEDELYA RAMADHANI/m)