JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO pada perdagangan Kamis (24/5/2018) ditutup di RM2.490, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (Low) di RM2.483 serta harga tinggi (High) di RM2.498.

"CPO berjangka naik ke harga tertinggi dalam tujuh pekan perdagangan di sesi pertama perdagangan Kamis kemarin mengikuti kenaikan harga pada komoditi kedelai Amerika Serikat serta adanya dukungan dari pelemahan ringgit Malaysia sebagai mata uang acuan," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Ringgit Malaysia melemah 0,1% menjadi RM3.9850 per dollar Amerika Serikat. Kontrak CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,6% pada harga RM2.487 atau setara $624,09 per metrik ton. Pelemahan Ringgit Malaysia diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir pekan ini.

Sementara harga minyak mentah dunia melemah pada Kamis di saat kenaikan produksi negara OPEC, di harga minyak mentah jenis Brent masih diperdagangkan di lebih dari tiga tahun tertinggi pada harga $79 per barrel dan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada harga $71 per barrel.

"Perdagangan hari Jumat ini, saat tulisan ini disusun, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.457. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga RM2.480, sementara harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.482, dan harga rendah (Low) di RM2.455," katanya.

--page

Harga CPO berjangka sempat turun tajam pada sesi pertama perdagangan Jumat, yang terlihat lebih disebabkan oleh permintaan ekspor yang lemah.

Kontrak minyak sawit untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,3% menjadi RM2.459 atau setara dengan $617,84 per metrik ton, yang merupakan penurunan terbesar sejak 9 April 2018, di mana harga CPO hari ini tampak terbebani oleh koreksi teknis.

Pengiriman CPO Malaysia selama periode 1 - 25 Mei 2018 turun sebesar 16,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Ekspor sepanjang satu bulan penuh terindikasi melemah karena Malaysia telah melanjutkan kembali pengenaan pajak ekspor CPO sebesar 5% pada Mei 2018 setelah sempat dihentikan sepanjang empat bulan sejak awal 2018 dengan alasan untuk meningkatkan permintaan dan mengurangi stok.

"Potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.503 (resistance 3), RM2.496 (resistance 2), dan RM2.478 (resistance 1)," ujarnya.

--page

Sedangkan potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.452 (support 1), RM2.438 (support 2), dan RM2.409 (support 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)