JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) global diprediksi akan memasuki fase penguatan mulai 2021, yang ditopang oleh estimasi penurunan produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia pada periode 2022 hingga 2025.

Adapun penurunan produksi itu disebabkan oleh kebijakan moratorium lahan sawit di Indonesia dan juga lambatnya kegiatan peremajaan tanaman sawit, menurut analisis terbaru dari lembaga riset Rabobank Group. 

Rabobank mengantisipasi kemungkinan penurunan produsi itu dipicu oleh beberapa faktor, seperti menurunnya hasil tandan buah segar (TBS) sawit di sejumlah perkebunan sawit yang sudah tua, terbatasnya lahan untuk perluasan, dan kurangnya kegiatan peremajaan tanaman sawit di kedua negara penghasil sawit terbesar dunia itu.

“Biasanya, butuh waktu empat tahun bagi tanaman sawit untuk mulai bisa dikomersialkan, dengan hasil TBS mendekati 10 ton per hektare. Hasil optimal akan terjadi antara 9 hingga 17 tahun, yang menghasilkan TBS di atas 25 ton per hektare,” kata analis senior Rabobank, Oscar Tjakra, di Jakarta medio pekan ini.

“Hasil panen TBS akan turun di bawah 15 ton per hektar, setelah tanaman sawit lebih tua dari 25 tahun. Saat ini di Malaysia dan Indonesia, kami mengestimasi bahwa sekitar 36% dan 9% tanaman sawit berusia di atas 25 tahun,” imbuh Tjakra.

--page

Sejak 2016 hingga 2017, Rabobank mengatakan pertumbuhan absolut area tanaman sawit di Indonesia dan Malaysia lebih rendah masing-masing sebesar 29% dan 51%, dibandingkan rata-rata 10 tahun lalu. 

“Hal ini sebagai akibat dari terbatasnya ketersediaan lahan di kedua negara, ditambah dengan relatif rendahnya harga minyak sawit,” ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)