PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) XXXI Pulang Pisau, Joko Listyanto mengatakan, saat ini dilakukan pendampingan pengelolaan hutan di wilayahnya menggunakan pola sharing dengan masyarakat setempat agar menghasilkan produk dari keberadaan hutan.

“Pengelolaan budidaya yang sudah ada di Pulang Pisau adalah lebah alami, tinggal kita nantinya menambah lagi dengan budidaya lagi. Sifatnya yang sudah ada ini kami tambah lagi,” kata Joko kepada Borneonews.

Ia mencontohkan, masyarakat di Cemantan yang membudidayakan lebah madu telah memberikan pendapatan bagi masyarakat. Madu sudah dipasarkan hingga ke Banjarmasin Kalimantan Selatan. “Sekali panen hingga 4 kwintal, itu sekira per 6 bulan, itu madu alami,” terangnya.

Joko juga menyebut, pihaknya sudah selesai membuat Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP). Dalam RPHJP itu ada kegiatan untuk menanam tanaman yang menjadi bahan makanan lebah.

“Kita sediakan makannya kita tanam kaliandra supaya lebah ini tidak kemana-mana karena ada bahan makanan. Yang sekarang ini disupport USAID Lestari dan Badan Restorasi Gambut (BRG) ada beberapa titik, contohnya di Desa Henda. Kita harus menangkap peluang ini supaya nanti bisa jadikan core bisnis kita untuk KPH,” katanya.

--page

Selain menggalakkan budidaya di kawasan berstatus Hutan Produksi, pihaknya juga melakukan pendampingan masyarakat untuk mengelola hutan desa (HD). Joko menyebut, ada empat HD yang berada di kawasannya, yaitu HD Gohong, Buntoi, Mantaren I, dan Kalawa. Semuanya berstatus hutan lindung.

Keempat HD ini pun sudah mendapat Surat Keputusan (SK) dari Menteri Kehutanan (Menhut) pada 2012 lalu untuk menguatkan keberadaannya. Untuk HD yang berstatus hutan lindung ini, KPHP mengarahkan pada usaha-usaha wisata dan jasa lingkungan.

“Yang sudah menanamkan model begitu, di wilayah kelola kita yaitu Sebangau, Jabiren, Gohong, Buntoi, disana ada hutan desa tapi di kawasan hutan lindung, dan karena di wilyah HL maka sifatnya diarahkan ke tujuan wisata dan jasa lingkungan,” pungkasnya. (ROZIQIN/B-2)