JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Aura negatif diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan minyak sawit mentah (CPO) hingga akhir pekan ini menyusul belum munculnya sentimen yang dapat menggerakkan pasar.

Pada perdagangan Kamis (21/6/2018), harga CPO berjangka jatuh dalam empat hari perdagangan berturut-turut, sehingga menyentuh level terendah dua tahun, akibat sentimen dari meningkatnya perselisihan dagang antara China dan Amerika Serikat, selain juga akibat dari melorotnya harga minyak kedelai di AS. 

Harga kontrak CPO untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,5% menjadi 2.251 ringgit (US$560,79) per ton.

"Pasar CPO tengah beristirahat sejenak, setelah terjadi aksi jual besar-besaran di China. Tapi secara keseluruhan, sentimen pasar masih negatif," kata seorang pelaku pasar di Bursa Berjangka Jakarta, Jumat (22/6/2018). 

Menurut dia, CPO sudah mengalami tekanan dan menurun tajam sejak awal pekan ini, hingga merosot 3% ke level terendah dua tahun pada Selasa (19/6/2018), merespons penurunan harga minyak nabati di Chicago Board of Trade (CBOT) dan Dalian Commodity Exchange. 

--page

Ia mengatakan harga komoditas di China anjlok, karena sentimen investor terguncang oleh meningkatnya perang dagang antara Beijing dan Washington.

Sedangkan pelaku pasar lainnya menyebut bahwa pelemahan CPO juga dipengaruhi oleh melemahnya harga minyak kedelai di CBOT. Harga kontrak minyak kedelai di Chicago untuk pengiriman Juli turun 0,6% pada Kamis.

Sementara itu, minyak kedelai untuk pengiriman September di Dalian Commodity Exchange turun tipis 0,04%, sedangkan kontrak minyak sawit di Dalian untuk September justru menguat 1,5%. (NEDELYA RAMADHANI/m)