BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.276 setelah dibuka pada level RM2.279, dengan harga tinggi (High) tercatat di RM2.288, dan harga rendah (Low) di RM2.273.
"Pada perdagangan hari ini potensi pelemahan lanjutan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.264 (support 1), RM2.247 (support 2), dan RM2.232 (support 3)," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Selasa (26/6/2018).
Sementara untuk potensi penguatan, ujarnya, perlu konfirmasi penembusan level resistance di kisaran RM2.328 (resistance 3), RM2.308 (resistance 2) dan RM2.293 (resistance 1).
Sementara itu, CPO pada perdagangan Senin (25/6/2018) ditutup di RM2.290, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (Low) di RM2.2258 serta harga tinggi (High) di RM2.296.
"Penguatan harga CPO berjangka pada penutupan perdagangan Senin kemarin didukung prospek penurunan produksi," kata Arie.
--page
Harga acuan CPO kontrak pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,3 persen pada RM2.290 atau setara dengan $570,22 per metrik ton.
"Sempat mengalami penurunan cukup panjang pada saat sesi perdagangan sedang berlangsung, karena permintaan ekspor yang lemah dan penurunan permintaan tercatat hampir sebanyak 7 persen sepanjang bulan ini," katanya.
Tampaknya ada ekspektasi pelaku pasar dalam melihat produksi minyak sawit yang menurun, sedangkan untuk kenaikan atau paling tidak mempertahankan kisaran harga, dibutuhkan adanya penambahan permintaan.
"Harga CPO saat ini tampaknya menarik bagi pelaku pasar, terlebih bagi konsumen," ungkapnya.
Produksi CPO Malaysia, sebagai produsen terbesar kedua dunia, mengalami penurunan sebesar 2,1 persen pada Mei menjadi 1,53 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








