BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) diestimasi mengalami tekanan dan jatuh ke level RM2.100 (US$520,60) per ton dalam dua bulan ke depan akibat meningkatnya produksi.
"Seiring meningkatnya produksi mulai Juli ini, harga akan melemah dengan selisih US$100 di bawah harga minyak kedelai," kata analis minyak nabati terkemuka, Dorab Mistry, di Jakarta akhir pekan lalu, seraya menyebutkan bahwa sebelum kejatuhan itu, harga CPO masih akan menguat dulu dari level sekarang.
"Itu akan memungkinkan sawit akan kembali merebut pangsa pasar dan menjaga stok tetap terkendali. Level RM2.100 adalah level memungkinkan terjadi dalam 60 hari ke depan," ujar Mistry, dengan mengasumsikan harga minyak mentah dunia jenis Brent akan beradas di kisaran US$75-US$85 per barrel.
Selama Juni, harga acuan minyak sawit sudah merosot 4,7% akibat lesunya permintaan.
Harga CPO saat ini lebih rendah US$78 dari harga minyak kedelai untuk kontrak Desember di Chicago.
--page
Mistry juga menjelaskan bahwa beberapa faktor lain yang mempengaruhi prospek pasar minyak sawit adalah upaya Indonesia untuk meningkatkan konsumsi biodiesel dan juga pergerakan nilai tukar ringgit Malaysia.
Menurut dia, minyak sawit juga akan diuntungkan oleh perang dagang antara Amerika melawan China, karena Negeri Tirai Bambu berpotensi mengurangi impor kedelai dari AS dan beralih ke jagung untuk pakan ternak.
"Peralihan ini kemungkinan akan menciptakan ruang lebih luas bagi impor minyak nabati, yang bisa mencakup minyak sawit," sebut Mistry. (NEDELYA RAMADHANI/m)








