JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Cadangan minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan turun pada Juni sebelum kembali pulih mulai Juli dan ke depannya, seiring dengan meningkatnya produksi yang melampaui permintaan.

Estimasi itu diungkapkan MIDF Amanah Investment Bank Bhd Research, seraya menyebutkan bahwa stok minyak sawit akan berada di atas level 2 juta ton hingga semester kedua 2018, sehingga akan terus membatasi pergerakan naik harga CPO.

Dalam risetnya medio pekan ini, MIDF menambahkan bahwa meski terdampak pelemahan harga minyak kedelai dan tingginya stok, namun harga CPO tidak akan jatuh terlalu dalam dari level sekarang. 

“Hal ini dipengaruhi oleh menguatnya harga minyak mentah Brent, yang akan mendorong tingginya permintaan terhadap minyak sawit dari sektor biodiesel,” jelasnya.

Dengan mengacu pada melemahnya harga minyak kedelai dan meningkatnya stok minyak sawit, MIDF telah menurunkan estimasi harga CPO menjadi RM2.400 per ton pada tahun ini.

--page

“Untuk 2019, kami memperkirakan harga CPO akan naik menjadi RM2.430 per ton, karena kami yakin stok minyak sawit akan turun akibat kurangnya dampak dari menurunnya stok minyak kedelai," kata MIDF.

Secara keseluruhan, MIDF menurunkan proyeksi sektor perkebunan menjadi 'Netral'. 

"Untuk Genting Plantations Bhd (GENP), kami memperkirakan pertumbuhan tandan buah segar sawit sebesar 13% yoy, yang merupakan pertumbuhan terbesar di antara perusahaan perkebunan lainnya. Hal ini berkat kontribusi dari area perkebunan yang baru saja diakuisisi mereka seluas 12.893 hektare dan 5000 ha berasal dari tanaman sawit yang sudah matang di Indonesia,” kata MIDF. (NEDELYA RAMADHANI/m)