BORNEONEWS, Sampit- Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Abdul Kadir, melihat kondisi hutan kian menipis. Penyebabnya ialah arus investasi yang masuk serta kebakaran hutan dan lahan.
"Maka dari itu ini perlu dijadikan fokus perhatian Pemkab Kotim hingga pemerintah pusat," kata Abdul Kadir, Minggu (8/7/2018).
Selain itu, ia turut mendorong agar pemerintah gencar memprogramkan penanaman kembali lahan yang terlantar dengan pohon yang memiliki nilai ekonomis.
Ia juga mempertanyakan sejauh mana peran dan upaya pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengembalikan kondisi hutan. Sebab setidaknya pemkab harus menyimpan 30% cadangan hutan dari total luasan di Kotim.
Menurut Kadir, kawasan hutan ideal tersisa 40%, sedangkan 60% lainnya digunakan untuk kawasan investasi di bidang kehutanan dan perkebunan termasuk di dalamnya kawasan permukiman.
--page
"Kondisi kritis demikian memang dari hari ke hari kian terancam, kawasan hutan bisa menyusut. Apalagi saat ini hanya tersisa 25%," tandasnya.
Jika tidak ada upaya penghijauan atau rehabilitasi hutan dan lahan dikhawatirkan hutan di Kotim akan habis dalam beberapa tahun ke depan. (NACO/B-3)








