JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perdagangan awal pekan ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.276, dengan perdagangan dibuka pada level RM2.281, sedangkan level tinggi (High) tercatat berada di RM2.288, dan harga rendah (Low) di RM2.272. 

"Produksi CPO Malaysia diperkirakan akan berpotensi meningkat pada Juli ini setelah sempat terjadi penurunan pada Juni. Pelaku pasar bereaksi terhadap perkiraan kenaikan produksi pada Juli, di mana data resmi oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia akan dirilis pada 10 Juli 2018," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Senin (9/7). 

Pada perdagangan Selasa, kata Arie, juga dijadwalkan akan dirilis data ekspor CPO Malaysia periode 1 hingga 10 Juli 2018 oleh perusahaan inspeksi AmSpec, Surveyor kargo Societe Generale de Surveillance atau SGS, serta ITS Malaysia. Rilis data ekspor tersebut berpotensi mempengaruhi laju komoditas CPO Malaysia.

"Pada perdagangan hari ini potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.338 (resistance 3), RM2.308 (resistance 2), dan RM2.293 (resistance 1), sementara terdapat juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga RM2.264 (support 1), RM2.247 (support 2), dan RM2.232 (support 3)," ucapnya. 

Menurut dia, CPO pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup di level RM2.264, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (Low) di RM2.264 serta harga tinggi (High) di RM2.297.

--page

"CPO berjangka Malaysia jatuh ke titik terendah dalam kurun waktu dua minggu perdagangan pada hari Jumat, yang merupakan keempat kalinya terjadi penurunan harga selama sepekan," katanya. 

Harga acuan CPO kontrak untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,9% pada harga RM2.264 atau setara dengan US$560,67 per metrik ton pada penutupan perdagangan yang sekaligus sebagai harga terendah terhitung sejak 25 Juni 2018.

CPO tergelincir 2,7% untuk pekan ini karena terjadinya penurunan atau minimnya jumlah permintaan, sehingga membebani harga komoditas tersebut. Selain itu terdapat juga faktor kehati-hatian pelaku pasar atas dimulainya perang dagang Amerika Serikat dengan China. (NEDELYA RAMADHANI/m)