BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diprediksi akan kembali tertekan seiring menguatnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS, ditambah dengan data ekspor yang turun.
"Penguatan mata uang ringgit Malaysia, data ekspor, dan sejumlah faktor memberikan tekanan terhadap CPO saat ini. Dengan produksi yang berada di bawah ekspektasi, ekspor yang melambat, pun harga rendah menyebabkan importir tidak ada motivasi untuk membeli buru-buru," kata Analis PT MOnex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya, Rabu (11/7/2018).
Adapun harga CPO pada perdagangan Selasa (10/7/2018) ditutup di harga RM2.259, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (Low) di RM2.234 serta harga tinggi (High) di RM2.272.
Ringgit Malaysia naik ke level kuat terhadap dolar dalam kurun waktu dua pekan pada perdagangan Selasa, dengan naik sebesar 0,1% di kisaran RM4,0200 per dolar AS.
Pada perdagangan Rabu ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.217. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada level RM2.245, sementara harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.249, dan harga rendah (Low) di RM2.212.
--page
"Pada perdagangan hari ini potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.308 (resistance 3), RM2.293 (resistance 2), dan RM2.285 (resistance 1)," katanya.
Namun terdapat juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga RM2.209 (support 1), RM2.185 (support 2), dan RM2.164 (support 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)








