BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri sawit Malaysia, dan mungkin juga Indonesia, kini tengah diuji ketahanannya oleh sejumlah faktor bearish (pelemahan), yang memicu pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) belakangan ini.
Para pelaku bisnis di sektor sawit umumnya terpukul oleh anjloknya harga CPO, yang merupakan indikator kunci untuk mengukur biaya operasional dan margin keuntungan mereka, kata pelaku pasar di Bursa Berjangka Jakarta, Senin (16/7/2018).
Untuk diketahui, harga CPO telah merosot sekitar 14% year-to-date, dan saat ini diperdagangkan di kisaran RM2.147 per ton.
Harga komoditas andalan Malaysia dan Indonesia ini juga dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap mata uang negara-negara importir. Kemudian, tingginya bea masuk untuk impor minyak nabati di India serta ketidakpastian akibat perseteruan dagang antara AS dan China.
Belum lagi dengan melimpahnya stok CPO di negeri jiran itu hingga melonjak 43% menjadi 2,19 juta ton hingga akhir Juni lalu, dibandingkan posisi setahun lalu yang sebesar 1,13 juta ton.
--page
Selain itu, panen tandan buah segar sawit di seluruh area perkebunan kelapa sawit di Malaysia pada Juni tercatat di level terendah dalam 24 tahun.
Beberapa pemicu rendahnya panen TBS adalah karena kenaikan upah minimum, yang menyebabkan melambungnya biaya produksi.
Di saat yang sama, industri sawit domestik negeri itu dibebani oleh berbagai pengeluaran, seperti retribusi, pajak, kekurangan tenaga kerja hingga kampanye negatif sawit di negara-negara Barat.
Isu-isu deforestasi dan keamanan pangan juga ikut menggerus daya saing minyak sawit, ungkap pelaku pasar tadi. (NEDELYA RAMADHANI/m)








