JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah menyatakan bahwa industri sawit nasional telah menjadi roda penggerak ekonomi di perdesaan dan juga membuktikan komoditas ini sebagai pelindung alam.

"Nilai transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan masyarakat sekitar, yakni dengan nelayan ikan mencapai Rp13,70 triliun per tahun, dengan masyarakat petani pangan sebesar Rp54,60 triliun per tahun, dengan masyarakat peternak sebesar Rp24,10 triliun per tahun," kata Deputi bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko, Musdhalifah Machmud, di Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Kelapa sawit, menurut Musdhalifah, merupakan komoditas andalan yang berperan bagi penghasilan devisa negara, penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, hingga penggerak pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah dengan dampak multiplier effect.

"Tak hanya itu, dilihat dari data pengeluaran penduduk yang dirilis BPS pada 2016, nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat nelayan ikan mencapai Rp13,70 triliun per tahun, dengan masyarakat petani pangan Rp54,60 triliun per tahun, dengan masyarakat peternak Rp24,10 triliun per tahun. Artinya, sawit adalah roda penggerak ekonomi di perdesaan," papar dia.

Musdhalifah mengatakan, Pemerintah Indonesia mengklaim berkomitmen membuktikan bahwa industri kelapa sawit berperan sebagai promotor sekaligus pelindung bagi bentang alam yang bernilai konservasi dan cadangan karbon yang tinggi.

--page

"Kami bersama pemangku kepentingan kelapa sawit terus berupaya membuktikan bahwa kelapa sawit Indonesia adalah produk yang aman untuk kesehatan. Komoditas sawit bukan merupakan penyebab kerusakan hutan tropis (deforestasi), bukan penyebab penurunan keanekaragaman hayati, bukan penyebab kebakaran hutan dan lahan, serta bukan sumber potensi peningkatan emisi karbondioksida yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim," ujarnya.

Kelapa sawit berperan strategis bagi perekonomian Indonesia. Data yang terhimpun menunjukkan bahwa kelapa sawit menyumbangkan devisa terbesar, sebesar US$ 23 miliar bagi Indonesia pada 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)