BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren penguatan pada harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka pada perdagangan Kamis (19/7/2018) memiliki potensi terkoreksi secara teknikal setelah kemarin menguat cukup tajam.
CPO pada perdagangan Rabu (18/7/2018) ditutup di harga RM2.211 setelah menguat tajam sebesar 1,8%, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (Low) di RM2.178 serta harga tinggi (High) di RM2.218.
"CPO berjangka mengalami lonjakan lebih dari 2% di harga tertinggi dalam kurun waktu satu pekan pada perdagangan Rabu kemarin, dengan faktor pendukung adalah pelemahan mata uang Ringgit Malaysia serta minyak nabati lain yang juga mengalami pemulihan harga," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Kamis (19/7/2018).
Adapun ringgit Malaysia sebagai salah satu mata uang untuk transaksi CPO pada Rabu kemarin mengalami pelemahan dengan turun sebesar 0,3% pada RM4,0570 per dolar AS, yang merupakan posisi terlemah terhitung sejak akhir Desember. Kondisi ini membuat CPO menjadi lebih murah untuk pembeli asing.
Sementara itu, pada perdagangan Kamis ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.203. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga RM2.218, sementara harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.220, dan harga rendah (Low) di RM2.185.
--page
"Pada sesi pertama perdagangan hari Kamis ini, harga CPO mengalami koreksi secara teknikal setelah kenaikan kuat pada perdagangan kemarin dan terdapat permintaan yang mulai mereda," ucapnya.
Menurut Arie, potensi adanya penguatan lanjutan pada hari ini perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.218 (resistance 1), RM2.228 (resistance 2), dan RM2.246 (resistance 3).
"Sementara hari ini juga terdapat potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga RM2.173 (support 1), RM2.162 (support 2), dan RM2.139(support 3)," imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








