SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) mengganggu ekosistem satwa. Buktinya, BKSDA Pos Jaga Sampit banyak menerima laporan gangguan orangutan yang muncul ke permukiman, saat karhutla marak sejak beberapa waktu terakhir.

"Kami banyak menerima laporan gangguan orangutan yang masuk ke permukiman dan perkebunan masyarakat. Kemungkinan itu terjadi karena dampak karhutla," kata Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, Rabu (25/7/2018). 

Dia mengatakan, dalam dua bulan terakhir yakni sejak Juni hingga akhir Juli 2018 ini, setidaknya ada enam laporan masyarakat tentang gangguan orangutan. Terutama pada kecamatan yang berada di wilayah selatan Kotim. 

"Ada dua laporan di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, satu laporan di Pulau Hanaut, dua laporan di Baamang, dan satu laporan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang," kata Muriansyah. 

Namun, pihaknya belum menerima laporan adanya satwa dilindungi yang menjadi korban karhutla. Kendati demikian, pihaknya akan tetap memantau kasus karhutla, terutama berkaitan dengan habitat satwa terus menerus kejadian Karhutla, terutama yang terjadi di lokasi habitat satwa dilindungi. 

--page

“Sejauh ini belum ada laporan terkait satwa dilindungi yang menjadi korban kebakaran lahan. Mudah-mudahan tidak ada korban, ” ucap Muriansyah.

Guna mengantisipasi hal tersebut, sejumlah personel Manggala Agni, saat ini juga masih aktif dan melakukan patroli. Serta membantu pemadaman Karhutla yang terjadi di sejumlah lokasi di Kotim. 

“Ada lima anggota Manggala Agni yang bergabung di Satgas penanggulangan karhutla. Mereka lah yang kami tugaskan memantau di lapangan,” kata Muriansyah. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)