JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Senin (30/7/2018), harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka ditutup di level RM2.192, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh level rendah (Low) di RM2.186 serta level tinggi (High) di RM2.204.

"Laju positif CPO yang ditutup lebih tinggi dibandingkan hari perdagangan sebelumnya merupakan kenaikan yang didukung oleh melemahnya Ringgit Malaysia serta harga minyak mentah dunia yang cenderung stabil," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya Selasa (31/7/2018).

Harga kontrak CPO untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,3% menjadi RM2.192 atau setara dengan US$540,57 per metrik ton pada akhir hari perdagangan.

Menurut Arie, pada perdagangan Selasa ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.181. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada level RM2.196, sementara harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.197, dan harga rendah (Low) di RM2.181.

"CPO berjangka tergelincir pada sesi pertama perdagangan hari Selasa, mengikuti pelemahan yang terjadi pada komoditas kedelai Amerika Serikat pada penutupan bursa tadi malam dan potensi data ekspor yang lemah dari surveyor kargo," ujarnya.

--page

Untuk harga CPO pada perdagangan Selasa ini yang dibuka lebih rendah, tutur Arie, terimbas penurunan harga komoditas kedelai Amerika Serikat semalam dan juga dipengaruhi oleh sikap hati-hati pelaku pasar terhadap data ekspor Juli dari surveyor kargo.

Pada sesi pertama perdagangan hari ini telah dirilis data ekspor periode 1 hingga 30 Juli 2018 dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Menurut perusahaan Intertek Testing Services (ITS), data ekspor CPO Malaysia tercatat 1.041.651 metrik ton vs 1.056.202 metrik ton, terdapat selisih 14.551 metrik ton dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya atau terjadi defisit sebesar -1,38%

Selanjutnya, AmSpec Agri Malaysia juga merilis data ekspor untuk periode yang sama dengan data yang disampaikan sebesar 1.030.909 metrik ton vs 1.073.224 metrik ton, terdapat selisih 42.315 metrik ton atau terdapat defisit sebesar -3,94%.

"Kedua data ekspor yang telah dirilis tersebut dengan terdapat defisit, dapat diartikan sebagai penurunan jumlah ekspor yang kembali berpotensi menguji sentimen pelaku pasar bagi harga CPO pada perdagangan hari ini," katanya.

Arie menjelaskan potensi adanya penguatan pada hari ini perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.218 (resistance 1), RM2.228 (resistance 2), dan RM2.246 (resistance 3). Sedangkan potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.173 (support 1), RM2.185 (support 2), dan RM2.165 (support 3).  (NEDELYA RAMADHANI/m)