Festival Anak Sebangau juga sebagai bentuk tanggung jawab BNF dalam mengelola dan melestarikan lingkungan secara berkelanjutan. Upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan ini harus ada yang meneruskan nantinya.
Anggota dewan juri dalam kegiatan tersebut dihadirkan berasal dari Thailand, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor, sehingga diharapkan dapat menambah kualitas penilaian pada IJMC 2025.
Ritual ini memiliki makna mendalam dalam tradisi masyarakat Lamandau dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Prosesi ini menggambarkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam melestarikan budaya daerah.
Penutupan festival ditandai dengan penyerahan piala dan uang pembinaan kepada para pemenang lomba, yang berlangsung meriah dan penuh keakraban di area objek wisata Danau Dayu.
Festival yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Lamandau ini menggabungkan dua kegiatan besar, yaitu Festival Babukung dan Lamandau Expo, yang akan berlangsung hingga 14 November 2025.
Suara Tatakup, alat musik tradisional dari bambu yang digoyangkan dan dihentakkan ke tanah, menjadi pengiring utama tarian Babukung. Setiap hentakan dan getarannya seakan menghidupkan kembali roh leluhur yang dulu menjadi bagian dari ritual adat Kaharingan.
Festival ini berlangsung pada 8-14 November 2025, menggabungkan dua kegiatan utama, yaitu Festival Babukung dan Lamandau Expo. Kedua acara ini menjadi etalase yang menunjukkan bagaimana kebudayaan dan kemajuan dapat hidup berdampingan.
Dengan adanya ritual meumpan Bukung, Festival Babukung 2025 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Dayak Tomun kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Babukung adalah tarian topeng yang menggunakan berbagai karakter yang disebut Topeng Luha. Penarinya dikenal sebagai Bukung. Topeng Luha memiliki beragam warna dan motif yang menggambarkan kekuatan dan keindahan alam, sering kali berbentuk hewan-hewan yang kuat dan mengagumkan seperti Bukung Nanga, Bukung Bajang, Bukung Hantu, dan Bukung Tingang.
Kabar ini tentu disambut suka cita oleh masyarakat Lamandau dan Kalimantan Tengah. Tria, yang merupakan jebolan ajang Bujang-Dara Lamandau, telah menunjukkan kemampuan dan kecintaannya terhadap budaya Indonesia.
Lomba ini menjadi ajang untuk mengabadikan momen terbaik selama karnaval berlangsung, sekaligus wadah berekspresi bagi para pelaku kreatif di bidang fotografi
Ajang ini menjadi wadah bagi para praktisi dan pecinta seni bela diri tradisional Kuntau dari berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah untuk menampilkan kemampuan, menjalin silaturahmi, dan melestarikan warisan budaya leluhur.
"Wisatawan lokal maupun mancanegara yang hadir nantinya tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan Festival Babukung, tetapi juga dapat menikmati kemeriahan Lamandau Expo 2025 yang digelar secara bersamaan,"
Kegiatan yang diisi dengan lomba Mangenta ini tidak sekadar menjadi ajang pesta rasa, tetapi juga wadah untuk mengangkat potensi kuliner lokal, memperkuat ekonomi kreatif dan mempererat kebersamaan masyarakat.
Tiwah seperti yang dilaksanakan di Desa Pondok Damar Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) dapat dikemas sedemikian rupa sehingga menarik minat wisatawan untuk datang dan menyaksikan kekayaan budaya serta ritual keagamaan yang ada di Kotim.
Kades Pondok Damar, Kenos, menjelaskan bahwa ritual Tiwah di desa mereka dilaksanakan secara turun-temurun sesuai dengan kemampuan keluarga yang bersangkutan.
Temuan fosil manusia purba yang menjadi koleksi peneliti Eugene Dubois yang dikembalikan ke Indonesia bisa menjadi bahan penelitian sehingga menghadirkan teori baru dengan narasi besar yakni Out of Nusantara.
Ajang bergengsi tingkat kabupaten ini digelar oleh Dinas Pendidikan Barito Timur di Gedung Tenis Indoor RTH Taman Nansarunai? Nansarunai Tamiang Layang dan diikuti oleh sekitar 200 pelajar jenjang SD dan SMP dari berbagai sekolah di daerah itu.
Sebanyak 83 peserta dari berbagai tim, seperti Bubuhan Team (Kujan), Putra Bahaum (Batu Kotam), dan Tim Heviza (Kotawaringin Barat), siap memacu adrenalin di lintasan sepanjang 1.700 meter yang membentang dari Jembatan Kujan hingga Lokpon Kujan.