BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Kalimantan Tengah mencatat jumlah wirausaha baru di Kalteng selama 3 tahun mencapai 304.
Angka tertinggi terjadi di 2017 dengan total 159. Sedangkan 2018 dan 2019 masing-masing 70 dan 75. Ini disampaikan kepala dinas setempat, Aster Bonawati kepada wartawan, Selasa, 29 Oktober 2019.
Selain hal tersebut, pihaknya juga mencatat pengembangan industri kecil dan menengah atau IKM lainnya di Kalteng baik bersumber dari APBD maupun APBN.
Berikut rinciannya. IKM pangan, barang dari kayu dan furniture yang ikut pelatihan berjumlah 224 (APBD) dan 169 (APBN). IKM kimia, sandang, aneka dan kerajinan yang ikut pelatihan 335 (APBD) dan 120 (APBN).
IKM logam, mesin, elektronika dan alat angkut yang ikut pelatihan 90 (APBD) dan 15 (APBN). IKM yang memperoleh bantuan sertifikasi produk halal berjumlah 87 (APBD) serta masih banyak lainnya dengan total 20 item.
--page
Di sisi lain, pemprov Kalteng di bawah kepemimpinan Sugianto Sabran juga terus melakukan upaya pembangunan kawasan industri.
Yang sudah masuk dalam rencana pembangunan kawasan tersebut adalah kawasan industri Bagendang dipusatkan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Yakni industri alumina (tambang), industri minyak kelapa dan industri pangan (minta sawit).
Kemudian, rencana kawasan industri Sebuai di Kabupaten Kotawaringin Barat, yakni industri besi baja.
Berikutnya, rencana kawasan industri Batanjung di Kabupaten Kapuas. Yaitu industri hilirisasi kelapa sawit (Oleokimia) dan industri hilirisasi karet.
Selanjutnya, rencana kawasan industri Segintung di Kabupaten Seruyan. Yakni industri hilirisasi hasil laut dan industri hilirisasi kelapa sawit (non pangan).
--page
"Untuk jumlah unit usaha selama tiga tahun juga mengalami peningkatan," ucap Aster Bonawati.
"Di 2016 ada 5.164. 2017 ada 7.688 dan di 2018 ada 7.953. Selanjutnya, tenaga kerja orang 2016 berjumlah 15.655, 2017 ada 21.269 dan 2018 ada 27.464. Sedangkan di 2019, pengumpulan data sedang dalam proses," imbuhnya.
Ia juga menyampaikan terkait kinerja sektor perdagangan. Aster Bonawati menyebut ada beberapa hal yang dilakukan dalam rangka pengendalian inflasi dan menjaga kestabilan harga.
Pertama, pemantauan harga dilakukan setiap hari di 2 pasar yakni Pasar Kahayan dan Pasar Besar. Kedua, mengoptimalkan fungsi pasar penyeimbang bersama SOPD terkait yang ada di tim Pengendali Inflasi.
Ketiga, melaksanakan pasar murah khususnya menjelang hari besar keagamaan nasional bekerjasama dengan pelaku usaha. Terakhir, melaksanakan operasi pasar. (BUDI YULIANTO/B-11)








