BORNEONEWS, Palangka Raya - Pongo pygmaeus atau orangutan Kalimantan, satu di antara tiga spesies orangutan yang populasinya menurun. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat selama 20 tahun terakhir menurunnya populasi orangutan ini disebabkan karena ulah manusia.
Bahkan orangutan Kalimantan masuk daftar merah IUCN dengan status kritis (critically endangered) alias sangat terancam punah.
Melihat kondisi ini PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dan Yayasan BOS terus berupaya menyelamatkan orangutan dari kepunahan.
Terbukti, keduanya telah berkolaborasi dengan menyiapkan lahan seluas lebih dari 2.000 hektare untuk prapelepasliaran orangutan.
Lahan ini terletak di gugusan Pulau Salat, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Tercatat dari Pulau tersebut pula, 20 orangutan berhasil dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Raya.
--page
Direktur Utama SSMS Vallauthan Subraminam mengatakan gugusan Pulau Salat cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi dan sosialisasi orangutan. Terlebih pulau ini juga mampu menampung sekitar 200 orangutan.
Maka dari itu Pulau Salat dipilih menjadi tempat menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Kawasan ini juga memiliki ketersediaan pakan orangutan yang cukup.
"Survei menunjukkan kawasan ini memiliki hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun dan tidak teridentifikasi ada orangutan liar di dalamnya. Jadi cocok bagi orangutan yang telah menyelesaikan rehabilitasi di sekolah hutan milik Yayassn BOS, " jelasnya.
Dengan berbagai karakteristik itu gugusan Pulau Salat dinilai dapat memberikan kesempatan bagi orangutan rehabilitasi. Orangutan itu bisa mematangkan keterampilannya menyintas secara mandiri di hutan.
"Pulau ini juga aman karena para orangutan dipantau penuh oleh para teknisi yang terlatih dan berdedikasi. Periode pra-pelepasliaran umumnya berlangsung selama 1-2 tahun sebelum orangutan dinilai siap dilepasliarkan ke habitat alami," tuturnya.
--page
Pulau Salat Kedatangan 6 Orangutan Baru
Enam individu orangutan sukses malewati tahap rehabilitasi di sekolah hutan, Nyaru Menteng, Kota Palangka Raya. Maka, keenam orangutan ini dipindahkan, ke Badak Besar di gugusan Pulau Salat untuk menjalani proses akhir rehabilitasi.
"Yayasan BOS bersama dengan SSMS kembali memindahkan enam orangutan. Mereka telah menjalani masa rehabilitasi dan selanjutnya menjalani tahap akhir rehabilitasi sebelum kelak dilepasliarkan ke hutan, "kata Vallauthan.
Dibeberkan, enam orangutan yang dipindahkan ini terdiri dari tiga jantan yang diberi nama Daryl, Barlian, dan Dius, dan tiga betina dengan nama Jati, Amber, dan Adil. Jadi saat ini di Pulau ada 36 individu orangutan.
"Setelah menjalani proses rehabilitasi yang cukup lama di sekolah hutan dan kini dinilai telah siap untuk menjalani tahap selanjutnya yakni prapelepasliaran," terangnya.
Di Pulau Salat, keenam orangutan ini akan mengembangkan semua keterampilan menyintas dan mengasah perilaku alami sampai kelak saatnya kembali ke hutan sejati.
--page
Setidaknya mereka akan menyusul 20 orangutan lain yang telah lebih dulu dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Raya.
CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite menjelaskan dengan adanya Pulau Salat ini Yayasan BOS cukup terbantu. Karena, tercatat 340 orangutan menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng. Padahal, luas lahan di sana idealnya hanya cukup untuk menampung 300 orangutan.
"Prapelepasliaran orangutan ke Pulau Salat ini merupakan strategi Yayasan BOS untuk melestarikan orangutan dan pemanfaatan pulau ini sangat membantu kami dalam melestarikan orangutan dan habitatnya," ucapnya. (BELA/B-6)








