BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah harga bahan pokok di pasaran yang ada di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai merangkak naik. Kondisi ini dinilai imbas tidak adanya keberangkatan kapal logistik atau roro dari PT Dharma Lautan Utama (DLU).
Pengusaha Jasa Angkutan di Sampit Agung Adi Nugroho, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sebagai pengusaha jasa angkutan, tidak bisa jalan melakukan pelayanan. Baik angkutan bahan baku dari Pulau Jawa ataupun logistik dari Kotim ke luar daerah.
"Sejak kemarin, imbasnya kepada kami yakni tidak adanya angkutan logistik, terutama sembako dan beberapa bahan pokok lainnya," ujar Agung, Senin, 19 April 2021.
Akibat hal tersebut, membuat sejumlah bahan pokok sudah mulai mengalami kelangkaan seperti kubis, dan beberapa bahan terutama yang didatangkan dari Pulau Jawa.
"Kalau tidak segera ada kebijakan yang memberikan solusi bersama, maka dampaknya akan sangat besar lagi nantinya terhadap kebutuhan pokok di Kotim," kata Agung.
--page
Seharusnya, pada 20 April 2021 besok ada kedatangan kapal dari PT DLU dari Surabaya yang biasanya mengangkut bahan pokok seperti sayuran dan lainnya. Namun karena tidak ada keberangkatan, maka bahan baku dari Pulau Jawa juga banyak yang tidak sampai ke Kotim.
Sementara itu, pihak pengusaha angkutan juga mengeluhkan dengan opsi yang diberikan pemerintah Kotim, yang memperbolehkan truk besar masuk dalam kota, namun hanya 50% dari muatan.
"Kalau seperti itu, maka akan menambah biaya lagi 2 kali lipat. Sehingga, menambah beban operasional bagi kami," kata Agung.
Dirinya berharap ada solusi dari permasalahan tersebut. Karena dampaknya bukan hanya pihaknya tidak bisa menjalankan bisnis, namun tentunya terhadap perekonomian di Kotim ini.
"Kalau seperti ini, yang diperlukan adalah kita pengusaha angkutan dan barang bisa duduk bersama dengan Pemkab Kotim. Sehingga ada solusi yang terbaik," harap Agung.
--page
Dirinya mengaku biasanya melayani jasa angkutan dari Surabaya dan Semarang menuju Sampit. Barang yang dibawa yakni berupa sembako, telur serta sayuran dari Surabaya, sedangkan dari semarang bahan-bahan lainnya. (MUHAMMAD HAMIM/B-7)









