SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Kotawaringin Timur, Suparmadi mengharapkan tak ada masyarakat yang mengategorikan sekolah favorit dan sekolah bukan favorit. Semua sekolah sama, kembali lagi ke kualitas individu peserta didik. 

"Sebenarnya tak ada istilah sekolah favorit. Itu hanya paradigma siswa dan orang tua saja, yang menginginkan bersekolah di tempat tertentu," jelasnya, Sabtu, 3 Juli 2021. 

Suparmadi mencontohkan banyak siswa di daerah itu mampu berprestasi, meski tidak menuntut ilmu di sekolah tertentu. Selain kembali ke kualitas individu siswa, faktor pendidikan dari lingkungan keluarga, menurutnya juga berperan penting. 

Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah agar anggapan sekolah favorit dan bukan sekolah favorit tidak ada di masyarakat. Salah satunya dengan menetapkan sistem zonasi pada setiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). 

"Siswa memiliki hak yang sama dalam memilih sekolah yang diinginkan. Dengan adanya sistem zonasi, eksklusivitas sekolah dapat dikurangi, bahkan dihapuskan," ujarnya. 

--page

Hal ini diamini Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sampit, Maspa Puluhulawa. Menurut Maspa, anggapan sekolah favorit sebaiknya dihilangkan. Demikian halnya dengan pemikiran orang tua terkait hal itu. 

"Memang sebaiknya tidak ada, namun yang terjadi ini sudah menjadi tradisi yang melekat di kalangan orang tua," katanya. 

Misalnya, ungkap Maspa, masih saja banyak orang tua memaksakan anaknya bersekolah di sekolah tertentu. Selain karena adanya anggapan sekolah favorit, juga ada yang beranggapan anaknya harus sekolah di tempat yang sama dengan orang tua maupun saudara-saudara yang lain. (MAGANG 2/B-6)