BORNEONEWS, Tamiang Layang - Banyak orang yang kehilangan pekerjaan atau menutup usahanya akibat pembatasan yang dilakukan pemerintah sejak pandemi covid-19 awal tahun 2020. Namun tidak demikian bagi Susanto, petani ini justru merasakan peningkatan omzet penjualan sayuran sejak pandemi karena memanfaatkan media sosial Facebook dalam menawarkan barang dagangannya.

Orang-orang yang berteman dengannya di Facebook pasti sudah terbiasa melihat postingan foto-foto sayuran yang segar atau pun aktivitas berkebun pria 32 tahun asal Desa Tewah Pupuh Kabupaten Barito Timur ini.

"Saya mulai aktif di media sosial sejak awal pandemi covid-19 tahun lalu," ujar Susanto saat ditemui, Sabtu, 7 Agustus 2021. Sayur yang dijualnya kebanyakan hasil dari kebun sendiri, namun pada waktu-waktu tertentu ketika tanamannya belum bisa dipanen Susanto juga membeli sayuran dari rekan petani di kabupaten tetangga untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Foto yang diunggah Susanto di akun media sosialnya maupun di grup jual beli berkualitas baik sehingga menarik perhatian orang untuk memesan. Pria yang mulai berjualan sayuran keliling sejak tahun 2017 ini mengaku sekarang hampir semua pelanggan sayuran merupakan teman di media sosial.

"Kalau jualan keliling kayak dulu dan nggak ada pelanggan yang pasti saya kesulitan juga, sering barang jualan tersisa dan dibagikan gratis atau dibuang, kalau sekarang malah barangnya yang kurang," ungkapnya.

--page

Susanto yang biasa menanam sendiri bayam, kangkung, jagung, tomat dan gambas, kini tidak perlu repot-repot berkeliling menawarkan dagangannya seperti saat belum pandemi. Dia mencontohkan, seminggu lagi dia akan memanen jagung namun jagung tersebut sudah dipesan pelanggan semua.

Menurut Susanto, kebanyakan pelanggan memesan saat dia memposting di Facebook sehingga ketika tiba waktunya panen dia hanya perlu mengantar langsung ke pelanggan dengan sepeda motor tanpa harus menawarkan lagi seperti umumnya pedagang sayuran keliling.

Pria ramah ini memiliki kebiasaan unik saat berjualan di pasar mingguan desa yakni melakukan siaran langsung lewat Facebook dengan tujuan untuk terus menjalin komunikasi dengan pelanggan-pelanggan. Kebiasaan ini membuat sosoknya banyak dikenal masyarakat dan berdampak kepada peningkatan jumlah pelanggan.

"Kalau pasar mingguan, saya biasa di Desa Tewah Pupuh, Bamban dan Gumpa, sedangkan pasar kabupaten tetangga saat ini saya nggak berani karena penularan covid-19 yang meningkat," paparnya.

Hubungan baik dengan pelanggan tidak berhenti pada penjualan sayuran semata, Susanto bahkan mengaku mendapatkan pesanan obat herbal Bajakah dari luar daerah melalui teman-temannya di media sosial.

--page

"Kendala saya sekarang justru sayurnya yang kurang karena di desa cuma saya sendiri yang mau bertanam sayuran jadi pada saat saya belum panen saya mengambil dari teman-teman petani yang lain di kabupaten tetangga," jelas Susanto tentang tantangan yang dihadapinya saat ini.

Selain itu, dia berharap ke depan dapat meningkatkan modal kerja maupun peralatan pertanian untuk meningkatkan produksi budidaya tanaman sayuran.

"Selama ini lahan yang saya kembangkan sendiri kurang lebih 1 hektare, sekarang saya lagi buka lahan baru untuk tanam cabai," ungkapnya.

Susanto juga masih memiliki impian agar desanya yang berada di perbatasan Provinsi Kalteng dan Kalsel menjadi sentra penghasil sayuran dengan munculnya petani-petani baru, itu sebabnya dia tidak segan-segan menularkan pengetahuan bertaninya kepada orang lain, bahkan Susanto menyiapkan benih dan pupuk bagi masyarakat yang ingin belajar bertani sayuran.

"Tidak mungkin saya melayani sendiri pelanggan-pelanggan saya yang semakin meningkat karena panen tidak bisa dilakukan setiap hari, dulu ada beberapa teman yang belajar bertanam sayuran tapi tidak ada yang bertahan saat ini," kata Susanto dengan ekspresi agak sedih. (BOLE MALO/B-5)