OLEH : Roni Sahala

NASIB malang akhirnya dialami Grepy (15 tahun). Orangutan yang telah diberitakan memiliki 13 peluru bersarang di tubuhnya itu, masih panjang umur tetapi dua matanya harus mengalami kebutaan permanen.


Sebanyak delapan peluru bersarang di dada Grepy dan lima lainnya di bagian wajah hingga pelipisnya. Sang primata langka dan dilindungi itu pun mengalami beberapa luka lebam di tubuh dan tulang hidungnya patah akibat pukulan benda tumpul.


‘’Hasil serangkaian pemeriksaan dan tes yang kita lakukan, orangutan itu divonis mengalami kebutaan permanen akibat beberapa syaraf mata rusak terkena peluru senapan angin kaliber 4,5 milimeter (mm).” kata dokter hewan di Klinik Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng-Palangka Raya, Agus Fachroni, Minggu (17/1/2016).


Peluru yang berada di tubuh Grepy diduga akibat ulah pemburu liar yang beraksi di kawasan hutan lindung Sungai Mangkutub, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng). Habitat orangutan terbesar kedua di Kalteng -- setelah Taman Nasional Tanjung Puting di Kabupaten Kotawari-ngin Barat (Kobar) -- itu pun sudah banyak rusak terbakar dan dijamah aksi pembalakan kayu secara liar (illegal logging).

Tak dilepasliarkan


Dokter Hewan BOS lainnya, Maryos Tandan, mengungkapkan, orangutan yang kemudian diberinya nama Grepy itu ditemukan pada 12 Januari lalu dengan luka tembak yang masih basah alias baru. Yaitu ketika tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng dan Yayasan BOS melakukan operasi pemindahan orangutan dari Sungai Mangkutub ke habitat baru yang masih perawan di kawasan hutan Bagantung, Kapuas.


Humas BOS, Agung Monterado, menjelaskan, kemungkinan besar Grepy tak bisa dikembalikan ke habitat liarnya akibat kebutaan yang dialaminya. Tim dokter pun hanya bisa mengeluarkan satu peluru dari tubuhnya. Sebab jika dipaksakan bedah, dikhawatirkan kondisi fisiknya makin lemah.


“Kami hanya mengeluarkan peluru yang posisinya cukup dalam. Sementara sisanya, (karena dangkal) mungkin akan keluar dengan sendirinya, sebab orangutan memiliki kekebalan alami,” kata Agung.
(B-1)