SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di seluruh tingkatan pendidikan Kotawaringin Timur saat ini mencapai 30 persen.

Capaian ini dianggap masih rendah mengingat IKM di kotim sudah dilaksanakan sejak 2021. Sampai saat ini Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim terus mengupayakan peningkatan IKM di Kotim.

"Kalau kita lihat, sekolah yang berada di daerah sudah ada yang IKM, seperti Antangkalang. Ayo sekolah lain segera IKM," kata Pelaksana tugas kepala dinas pendidikan (Plt. Kadisdik) Kotim, Susiawati.

Susiawati menjelaskan, rendahnya capaian IKM ini karena kurangnya pemahaman. Sekolah menganggap harus mengikuti Program Sekolah Penggerak (PSP) terlebih dahulu sebelum IKM. Sementara menjadi PSP sangat sulit. PSP merupakan agen perubahan sebagai contoh IKM. 

"Faktor utamanya ialah kurangnnya pemahaman. Masih menganggap IKM hanya dilakukan oleh sekolah penggerak padahal kita harus melaksanakan IKM dulu baru menjadi sekolah penggerak," katanya.

Disdik Kotim telah melakukan upaya pemahaman kepada satuan pendidikan. Harapannya pada tahun 2023 seluruh tingkat satuan pendidikan di Kotim sudah IMK.

"Pelan-pelan bengimbasannya sudah kita mulai, setiap bulan pengimbasannya lumayan. Kita punya target seluruh satuan pendidikan di Kotim sudah IKM tahun ini," kata Susiawati.

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum pembelajaran yang memusatkan pembelajaran kepada siswa. Guru memiliki kebebasan dalam memilih perangkat pembelajaran sesuai dengan kebutuhan. (DEWIP/B-11)