BORNEONEWS, Sampit - Kepala bidang kedaruratan dan logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kotawaringin Timur (Kotim) Agus Mulyadi tahun ini diperkirakan akan terjadi kemarau panjang.
"Kita sudah diingatkan oleh BMKG jika tahun ini kemarau panjang, bahkan disamakan dengan 2019 kita harus segera waspada untuk bisa menetapkan status siaga bencana," ujarnya, Kamis, 16 Februari 2023.
Namun disebutnya dari segi kondisi saat ini hampir setiap hari hujan, sehingga kejadian karhutla tidak ada dan juga titik hotspot dalam beberapa minggu ini nol.
"Secara nasional ada 2 hal yang menjadi kriteria salah satunya adalah peringatan BMKG dan yang kedua KTT dipercayakan kepada negara Indonesia sebenarnya sudah bisa untuk menetapkan status siaga darurat bencana karhutla," katanya.
Ia menyebut berdasarkan perkiraan BMKG jika Mei 2023 merupakan awal kemarau dan akan terjadi penurunan curah hujan yang terendah selanjutnya akan kemarau yang diprediksi akan lebih panjang dari pada tahun sebelumnya.
"Namun perlu diketahui prediksi cuaca ini bersifat anomali jadi tidak bisa menjadi patokan seperti tahun lalu saat diprediksi kemarau ternyata kemarau basah," jelasnya.
Namun BPDB telah mempersiapkan untuk menghadapi bencana karhutla. Pihaknya menyiapkan personil, peralatan, maupun kegiatan asosiasi. Karena di wilayah ini telah terjadi penurinan debit air.
"Debit air sudah mulai menurun kurang lebih setengah meter dari kondisi biasanya," tuturnya. Sebagai persiapan menghadapi bencana tersebut, BPDB telah melakukan pengecekan sumur bor yang ada di Kotim.
--page
"Yang belum kita cek embung yang di kota ada 17 embung dan ada tambahan 3 jadi total 20 embung. Belum kita cek apakan bisa dipakai atau belum atau tertutup oleh sampah atau kedalamannya kurang," terangnya.
Pihaknya akan melakukan koodinasi dengan kecamatan atau pihak intansi terkait untuk bisa mendalami lagi embung tersebut agar saat kekeringan bisa dijadikan sumber untuk pemadaman. (DEWI PATMALASARI/R)









