BORNEONEWS, Pangkalan Bun: Ekses negatif persoalan listrik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) akhir-akhir ini, membuat posisi Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Pangkalan Bun kian terdesak. Terlebih, agenda kegiatan unjuk rasa demonstrasi warga di depan Kantor PLN Rayon Pangkalan Bun, pada Senin (21/3), tak ada tanda-tanda akan akan dibatalkan. Pimpinan PLN Pangkalan Bun, Purwanto mengaku siap mundur, apabila dalam demonstrasi Senin ini warga menginginkan dirinya lengser.

Manager PLN Rayon Pangkalan Bun, Purwanto, berharap demonstrasi yang akan dilakukan warga Senin ini bisa berjalan dengan damai dan tidak mengganggu ketertiban umum serta pelayanan PLN kepada masyarakat. Purwanto menginginkan aspirasi warga terkait kondisi listrik di Kobar bisa disampaikan lewat cara lain, salah satunya dengan cara diskusi terbuka. Karena banyak hal yang perlu dipahami, terkait faktor-faktor penyebab terjadinya gangguan listrik. "Saya pribadi menginginkan ada gebrakan. Ayo sama-sama menggeberak manajemen," ujar Purwanto, Minggu (20/3).

Purwanto mengaku bisa memahami reaksi negatif dan emosi kekecewaan warga yang dialamatkan kepada PLN, terkait dinamika kelistrikan di Kobar. Purwanto mengaku siap mengambil tanggung jawab dan menanggu resiko terberat jabatannya. "Saya sangat paham. Bahkan saya siap kalau masyarakat menginginkan saya lengser dari Pimpunan PLN Pangkalan Bun," ujar Purwanto, Minggu (20/3).

Purwanto juga mengaku sudah berupaya mengundang Manager PLN Area Palangka Raya untuk hadir di Pangkalan Bun pada Senin ini, sesuai harapan warga. Namun, dikarenakan di waktu yang sama yang bersangkutan tak bisa hadir, lantaran diminta menghadap Pejabat (Pj) Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng). Maka kehadiran Manager PLN Area Palangka Raya, akan diwakili oleh Asisten Manager Administrasi dan Asisten Manager Transaksi Energi Listrik PLN Area Palangka Raya.

Purwanto berharap ke depan masyarakat mau bersama-sama membangun kesadaran kolektif menjaga dan mengawasi sistem kelistrikan. Mulai dari pembangkit sampai dengan instalasi pelanggan aman dan lancar di Kobar. "Berharap warga sadar standar pemakaian daya listrik sesuai haknya. Jangan ingin lebih. Salah satu contohhnya pembesaran daya yang tidak resmi. Untuk produksi 1 KWH, PLN harus mengeluarkan biaya Rp 4 ribu. Tapi dijual Rp890."

Ia menambahkan, kesepuluh unit mesin pembangkit listrik dengan total kapasitas 5,6 MW, milik PT Kaltimex yang didatangkan ke Kobar, dari Kabupaten Kotawaringin Timur, akan dilakukan secara bertahap. Meski ada tawaran bantuan angkutan dari pemerintah daerah. Namun pengangkutan mesin pembangkit akan ditangani sendiri oleh PLN. "Belum bisa semua. Sudah siap angkut. Tinggal nunggu alat crane-nya. Infonya baru bisa 5 unit. Estimasi bisa beroperasi akhir bulan," tutup Purwanto. (RD/B-7)

Rep: Raden Ariyo, Red: Sigit Pamungkas