Setelah mengalami deflasi selama tiga bulan terakhir, perekonomian Kalimantan Tengah (Kalteng) akan menghadapi situasi berat pada tiga bulan berikutnya. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng menyebutnya sebagai bulan “berdarah-darah”, yaitu gejolak harga yang memicu inflasi.
“Tiga bulan (terakhir) ini amanlah, ya. Tapi, kita tidak santai-santai juga. Kita lebih fokuskan pada persiapan menghadapi April ini, kemudian Mei-Juni nanti. Ini kan bulan berdarah-darah, jadi harus dipersiapkan,” ungkap Syahrin Daulay, asisten II Setda Kalteng dalam saat jumpa pers TPID di Palangka Raya, Senin (4/4/2016).
Ia menyebutkan, Selama Januari hingga Maret 2016 Kalteng mengalami deflasi untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Artinya, stok barang lebih banyak daripada kebutuhan masyarakat sehingga harga-harga relatif bisa ditekan.
Data terakhir pada Maret, menurut Syahrin, potret perekonomian Kalteng dengan barometer Kota Palangka Raya dan Sampit sebagai satu kesatuan, mengalami deflasi sebesar 0,15%. Masing-masing, Palangka Raya, ibu kota Kalteng, menyumbang 0,04%; dan Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), 0,34%.
HUT dan Bulan Puasa
Sementara tantangan ke depan, lanjut Syahrin, antara lain pada Mei Palangka Raya akan kedatangan ribuan tamu Festival Budaya Isen Mulang (FBIM). Ini merupakan agenda rutin perayaan hari ulang tahun (HUT) provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai.
Ia memerkirakan, saat itu kebutuhan akan meningkat. Begitu pula yang terjadi pada Juni, umat Muslim akan menyambut Bulan Puasa yang berdasarkan pengalaman akan memengaruhi lonjakan permintaan barang kebutuhan pokok yang memicu lonjakan harga.
“Ini (kondisi deflasi, Red.) harus dipertahankan untuk bulan-bulan ke depan. Ayam ras sudah kita siapkan karena biasanya menjadi pemicu inflasi. Kita tidak boleh kecolongan pada Juni nanti,” kata Syahrin.
Kaseriusan persiapan menghadapi ‘’bulan berdarah-darah’’, akan digelar Rapat Koordinasi (Rakor) TPID se-Kalteng, pekan depan. (B-1)





