KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan Sugiono Yajie mengaku, pihaknya sering terkecoh dengan laporan satelit tentang adanya titik panas serta dugaan kebakaran lahan dan hutan.
“Saat kita datangi ke TKP (tempat kejadian perkara), ternyata orang bakar arang atau sampah, dan tumpukan batu bara yang berapi. Bahkan pernah orang bakar lamang (makanan tradisional dari ketan) juga terdeteksi satelit,” ujarnya, Selasa (19/4/2016).
Menurut dia, satelit yang dioperasikan saat ini, yakni noah dan aqua terra sangat sensitif dalam mendeteksi titik panas. Bahkan kebakaran kecil saja bisa dideteksi.
“Sisi lain bagus itu, sebab tidak akan lengah kita terhadap adanya titik panas yang bisa membahayakan hutan dan lahan gambut kita dari kebakaran,” ucapnya.
Sejauh ini, tutur Sugiono, titik api bisa dikatakan nol. Namun memang terkadang ada satu dan dua titik terdeteksi yang tingkat kepercayaannya di bawah 71%.
“Meski tingkat kepercayaannya di bawah 71%, itu tetap tidak bisa kita indahkan, harus dipantau ke lapangan. Siapa tahu benaran, nantinya terlambat kita menanganinya,” kata dia.
Menurutnya, BPBD dibantu kepolisian dan TNI mulai siaga kebakaran hutan dan lahan dari sekarang, meski curah hujan masih tinggi. Pasalnya, kebakaran bisa terjadi kapan saja dan waktunya tidak bisa diprediksi.
“Jadi jangan sampai dilengahkan. Lagi pula perintah Bapak Presiden jelas untuk menanggulangi bencana kebakaran lahan dan hutan dilakukan sejak dini.
(ANT/B-3)








