BORNEONEWS, Palangka Raya - Setiap hari adalah perjuangan, hari yang baru diisi dengan penuh dedikasi dan kepedulian. Mereka lah pejuang vaksinasi rabies. Borneo News akan mengajak pembacanya mengikuti perjalanan seorang relawan vaksinasi rabies yang berperan penting dalam menjaga kesehatan hewan dan manusia.
"Setiap pagi dimulai dengan persiapan yang teliti. Peralatan vaksinasi harus steril dan siap digunakan. Ini adalah langkah pertama dalam misi kami untuk melindungi hewan dari rabies," kata Agung Priantoko, salah seorang dari relawan Vaksinator Rabies Palangka Raya yang berada di bawah naungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya pada Rabu, 7 Agustus 2024.
Menurut Agung, sama seperti imunisasi pada manusia, vaksinasi rabies juga harus dilakukan dengan tepat dan teliti. Peralatan vaksinasi harus steril dan siap untuk digunakan. Ini adalah langkah pertama dalam misinya untuk melindungi hewan dari rabies.

Relawan memastikan bahwa semua alat dan vaksin dalam kondisi baik dan siap untuk digunakan. Kotak es harus bersih sebelum diisi ice gel yang akan menjaga suhu ampul vaksin tetap dalam kondisi dingin saat dibawa berkeliling Kota Palangka Raya. Rantai dingin vaksin rabies memang harus terjaga pada suhu 2-8 derajat celcius.
--page
Alat suntik harus yang baru dibuka untuk setiap hewan yang divaksin, serta peralatan lainnya seperti sarung tangan, stiker tanda hewan telah tervaksin, Mereka juga memeriksa daftar hewan yang akan divaksinasi hari itu, memastikan tidak ada yang terlewat.
Perjalanan menuju lokasi vaksinasi seringkali penuh tantangan. Namun, semangat dan tekad para relawan tidak pernah surut. Mereka tahu bahwa setiap langkah membawa mereka lebih dekat pada tujuan.
Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai tantangan, mulai dari medan yang sulit hingga cuaca yang tidak bersahabat. Namun, semangat mereka tetap tinggi karena mereka tahu bahwa pekerjaan mereka sangat penting.

"Wilayah tugas saya adalah Kelurahan Palangka dan Kelurahan Bukit Tunggal jadi kalau jalanan belum aspal itu sudah biasa saya temui. Komplek lama dengan jalanan sempit juga sudah biasa. Kalau perihal cuaca, saya lebih suka hujan sekalian daripada panas terik. Karena kalau hujan suhu pada vaksin akan terjaga di 2-8 derajat C. Saementara kalau panas saya was-was juga takut vaksinnya rusak kena sinar matahari makanya harus benar-benar dijaga tetap di suhu dingin walaupun kegiatannya berada di luar ruangan," terang Agung lagi.
--page
Di lokasi pun tidak lebih mudah. Relawan harus bekerja dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Tidak setiap Hewan Penular Rabies atau HPR mudah untuk didekati. Banyak yang sulit dikendalikan, bahkan oleh pemiliknya sekalipun.
Tidak jarang Agung harus menunggu cukup lama di satu rumah hanya agar hewan yang dipelihara dapat dikendalikan dan tervaksin dengan baik.Setiap hewan yang divaksinasi adalah satu langkah lebih dekat menuju komunitas yang bebas rabies.
Proses vaksinasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan hewan. Relawan juga memberikan edukasi kepada pemilik hewan tentang pentingnya vaksinasi dan cara merawat hewan peliharaan mereka.
"Kendalanya masing-masing. Kalau anjing biasanya sulit didekati, kucing kabur-kaburan, nah kalau kera karena memang liar jadi harus ekstra pemiliknya harus untuk mengendalikannya," beber Agung lagi.
Untungnya bapak dari dua anak ini juga bukan orang baru di dunia pecinta hewan. Sejak 2016 Agung telah mendirikan sebuah rumah singgah khusus untuk menampung anjing terlantar. Dengan kasih sayang ia bersama sang istri merawat anjing yang ditemukan terlantar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Barulah di tahun 2018 Agung diajak bergabung sebagai relawan Vaksinator Rabies oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya melalui perantara Kepala Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan UPTD Kalampangan, drh Eko Hari Yuwono.
--page
“Melihat hewan-hewan ini sehat dan terlindungi adalah kebahagiaan tersendiri. Kami melakukan ini karena kami peduli, dan kami ingin membuat perbedaan. Setiap kali kami berhasil memvaksinasi hewan, kami merasa bahwa kami telah melakukan sesuatu yang berarti. Ini bukan hanya tentang melindungi hewan, tetapi juga melindungi komunitas manusianya dari bahaya rabies," tutur Agung lagi.
Benar, bebasnya hewan peliharaan dari virus rabies berarti bebas pula lah manusianya dari virus mematikan ini. Bagaimana tidak mematikan, virus rabies belum ada obatnya sehingga cara satu-satunya untuk terbebas hanyalah melalui vaksinasi atau pencegahan.
Penyintas rabies
Agung pun merupakan penyintas virus rabies. Ini menjadi salah satu alasannya menerima tawaran sebagai relawan Vaksinator Rabies. Sebagaimana namanya, relawan tetap lah relawan. Tidak ada apresiasi khusus untuk seorang relawan namun kepeduliannya menampik kenyataan itu.
Agung tetap menjalankan panggilannya meskipun tanpa bayaran. Hingga Agustus 2024 ini, dirinya sudah mwmbwrikan vaksin kepada setidaknya puluhan ribu ekor HPR di kota Palangka Raya.
"Kalau mau bicara uang susah juga karena namanya juga kan relawan, artinya hal seperti ini harus dijalani dengan kerelaan hati. Karena saya pernah merasakan bagaimana takutnya saya saat itu ketika mengetahui bahwa saya digigit anjing rabies. Yang saya pikirkan saat itu bagaimana nasib anak dan istri saya kalau sampai saya meninggal akibat rabies. Apalagi saat 2016 itu saya mulai membangun rumah singgah sama dengan tahun kelahiran anak pertama saya. Saya ingat bagaimana takutnya saya mendapati bahwa anjing yang saya bawa dari jalanan kala itu ternyata mengidap rabies dan menggigit saya," kenang Agung.
--page

Meski saat ini Agung bisa tertawa mengingat kenangan itu, namun saat hal itu terjadi padanya, seluruh keluarga besarnya kalang kabut. Beruntung Agung didampingi oleh banyak pihak. Mulai dari Dokter Hewan Eko yang merupakan dokter langganan Agung saat membawa anjing-anjing terlantar yang ditemuinya di jalanan, hingga petugas di Rabies Center, UPTD Puskesmas Bukit Hindu Palangka Raya.
Agung bercerita bahwa saat mengetahui bahwa anjing kecil yang menggigitnya dahulu mengidap rabies, berdasarkan pemeriksaan laboratorium, Agung langsung diarahkan untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies atau VAR di Puskesmas Bukit Hindu yang merupakan Rabies Center empat wilayah yakni Palangka Raya, Katingan, Pulang Pisau dan Gunung Mas. Tidak hanya sekali, Agung harus mendapatkan tiga kali suntikan dengan jeda masing-masing sebulan.
"Beruntung sekali petugas Puskesmas sangat perhatian. Jadi saya digigit anjing rabies itu satu bulan sebelum anak pertama saya lahir dan langsung mendapat VAR dosis pertama. Saat anak saya lahir, dengan segala kesibukan yang ada saya jadi lupa dengan ketakutan saya pada gigitan rabies itu. Namun petugas Puskesmas menelepon saya untuk mengingatkan bahwa saya harus mendapatkan VAR dosis kedua dibulan Agustus 2016 itu. Kalau tidak diingatkan, mungkin virus itu sudah menggerogoti badan saya. Seketika ketakutan saya muncul lagi. Setelah ditelepon, keesokan harinya saya langsung datang ke Puskesmas meskipun sudah terlambat satu hari dari tanggal vaksin. Petugas di sana menenangkan saya bahwa tidak menjadi masalah hanya terlambat sehari karena masih ada dosis ketiga lagi di bulan depannya. Benar saja, sekarang sudah 8 tahun saya hidup pasca kejadian itu, Puji Tuhan saya masih diberi keselamatan," ceritanya.
Berkaca dari kejadian itu, saat diajak untuk menjadi relawan Vaksinator Rabies di tahun 2018, meski sempat menolak karena tidak memiliki basik medis, akhirnya Agung menerima juga tawaran itu dan bertahan hingga di tahun 2024 ini. Banyak sudah orang yang direkrut menjadi relawan Vaksinator Rabies sejak tahun 2018 itu namun hanya sedikit yang masih bertahan, salah satunya ialah Agung ini.
--page
Merawat anjing terlantar dan memberi kehidupan baru
Cerita beralih pada Agung sebagai pemilik Rumah Singgah anjing terlantar. Sejak memiliki rumah singgah ini tidak sedikit kasus anjing terlantar yang ditangani Agung. Bukan hanya perihal kasus rabies tetapi juga kasus penelantaran hewan peliharaan yang erat kaitannya dengan penyebaran kasus rabies. Agung menjelaskan bahwa kebanyakan kasus rabies berasal dari hewan-hewan terlantar, baik itu anjing maupun kucing. Maka untuk mengentaskan kasus rabies di Palangka Raya, salah satu caranya ialah mengurusi soal hewan terlantar.Tidak sedikit anjing terlantar yang telah dirawat Agung sejak tahun 2016. Tetapi seperti namanya, rumah singgah, Agung menginginkan agar hewan-hewan yang telah diambilnya dari jalanan ini bisa memiliki kehidupan yang lebih baik di rumah yang baru. Karenanya, jika menemukan anjing terlantar Agung akan memberikan perawatan yang diperlukan sesuai kebutuhan, jika sudah sehat maka akan dibuka adopsi bagi masyarakat yang mau menampung dan merawat hewan tersebut.

Salah satu kisah yang diceritakan Agung ialah proses adopsi terhadap anak anjing yang diberi nama Bobon oleh pemilik barunya. Bobon adalah anak dari Bingo, salah satu anjing yang diantarkan oleh seseorang ke rumah singgah.
Suatu malam yang gerimis, seorang wanita datang ke depan pagar rumah Agung dan mengantarkan Bingo. Wanita itu menemukan Bingo berlari kebingungan dan bersembunyi di pembatas jalan di seputaran G Obos Palangka Raya.
Karena bingung mau membawa kemana, wanita yang pernah sekali datang ke rumah singgah itu kemudian membawa Bingo ke rumah Agung. Kondisi Bingo saat itu cukup memprihatinkan. Badannya kurus dan hampir semua bulunya rontok mendekati gundul. Tampaknya sudah lama Bingo berada di jalanan. Bingo pun dibawa ke dokter dan dirawat di rumah singgah.
Berselang lama Bingo diketahui sedang menandung dan lahirlah lima ekor anaknya sehingga semakin banyak lah anjing yang perlu dirawat oleh Agung. Adopsi pun dibuka, tapi bukan untuk Bingo melainkan untuk anak-anaknya. Berdatangan lah orang-orang untuk mengadopsi anak Binggo, salah satunya ialah Bobon yang diadopsi pasangan Dede dan Dwi.
"Kami mengadopsi Bobon karena kasihan. Dari lima ekor anak Bingo itu hanya Bobon yang tidak diadopsi orang. Kebetulan juga kami kan sering main ke RSAT (rumah singgah milik Agung) jadi kami tahu kalau anak-anak Bingo yang lain sudah diadopsi sementara Bobon belum ada yang adopsi. Kalau mau beli anjing ras misalnya sebenarnya bisa saja, tetapi kan masih banyak anjing terlantar yang membutuhkan. Jadi daripada beli, kami lebih memilih mengadopsi saja dari RSAT dan sampai sekarang sudah hampir 6 tahun umur Bobon ini," kata Dede kepada Borneo News.
Edukasi masyarakat agar terhindar dari rabies
Berkurangnya anjing terlantar harusnya mengakibatkan berkurang pula lah potensi rabies. Namun kendala lain kembali muncul. Melihat kehadiran RSAT di Palangka Raya, banyak masyarakat yang berbondong-bondong memberi laporan akan adanya anjing terlantar. Bahkan banyak yang justru mau “membuang” peliharaannya dengan berbagai alasan agar dapat diberikan kepada RSAT.
--page

Tentunya RSAT semakin kewalahan mengingat yang mengurus RSAT hanyalah Agung beserta istri tanpa bantuan tangan-tangan luar. Demi menjaga anjing-anjing yang telah terlanjur diambil dari jalanan sejak 2016 namun tidak mendapatkan keluarga baru dan harus tetap berada si RSAT, Agung mengambil langkah cepat dengan menutup akses laporan masyarakat sejak tahun 2020.
Jika sebelumnya Agung langsung menangani laporan masyarakat dengan mengambil alih kasus, kali ini setiap pelapor yang datang dilibatkan dalam upaya mengurangi hewan terlantar. Pelapor diwajibkan ikut mencari solusi terkait kelangsungan hidup hewan yang dilaporkannya. Misalnya dengan mencari calon adopter bagi hewan yang dilaporkan atau bahkan pelapor itu sendiri lah yang harus mengurusnya.
Jika telah sepakat, maka RSAT akan membantu mulai dari biaya pengobatan, membawa ke klinik hewan, mensupport tindakan dokter hewan baik itu perawatan jalan bahkan operasi sekalipun, hingga akhirnya hewan tersebut sehat dan dapat diserahkan kembali kepada pelapor.
“Dengan begini kami mengajak kesadaran masyarakat agar jangan hanya bisa melapor tetapi juga harus ikut memikirkan bagaimana kelangsungan hidup hewan yang dilaporkan. Karena pasca penanganan atau pengobatan kan ada hidup yang akan berlanjut, nah bagaimana nasibnya karena RSAT tidak ada bisa menampungnya lagi. Puji syukur pelan-pelan edukasi ini sampai kepada masyarakat. Tujuan kita adalah agar sama-sama, jangan hanya berharap kepada RSAT, tetapi ayo kita sama-sama memikirkan dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup hewan terlantar. Setiap tahun atau minimal 6 bulan sekali kami akan mengunjungi hewan-hewan yang diadopsi pelapor ini untuk Kembali mendapatkan vaksin rabies. Maka kita akan dapat mengerem hadirnya hewan terlantar dan penularan rabies sekaligus dengan cara ini,” jelas Agung lagi.

Dengan terbaginya tanggung jawab bersama masyarakat luas, Agung jadi dapat mengembangkan sayap. Tidak hanya mengurusi Hewan Penular Rabies seperti anjing, kucing, dan kera, Agung juga beberapa kali terlibat dalam penanganan satwa yang dilindungi.
Datangnya laporan dari masyarakat kini bukan hanya berkisar pada perihal anjing terlantar tetapi juga satwa yang dilindungi. Suatu hari masuk laporan bahwa seekor anakan kucing hutan ditemukan di lingkungan rumah masyarakat. Sang pemilik rumah melapor kepada RSAT. RSAT kemudian membantu melanjutkan laporan kepada BKSDA sebagai lembaga yang memiliki wewenang pada kondisi tersebut.
Gandeng komunitas pecinta satwa
Selain itu, lanjutnya, kerja sama dengan komunitas lokal pun dirasa sangat penting dalam upaya menggencarkan vaksinasi rabies. Komunitas pecinta anjing dan komunitas pecinta kucing memegang peran penting untuk pengentasan kasus rabies ini.
--page
RSAT, rumah singgah binaan Agung juga memiliki akses yang cukup besar kepada komunitas pecinta anjing dan kucing. Pengikut RSAT di media sosial Instagram saat ini telah mencapai 8.900 orang sehingga jangkauannya untuk memberikan vaksin rabies pun kian tinggi.
Tidak heran jika Agung digandeng menjadi salah satu relawan yang bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mencapai tujuan bersama. Mereka mengadakan acara vaksinasi massal dan kampanye edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya vaksinasi rabies. Kolaborasi ini membantu mencapai lebih banyak hewan dan memastikan bahwa pesan tentang pentingnya vaksinasi tersebar luas.
“Selain vaksinasi, edukasi juga merupakan bagian penting dari misi kami. Relawan memberikan informasi tentang apa itu rabies, bagaimana penyebarannya, dan cara pencegahannya. Kami menggunakan berbagai metode, mulai dari bicara langsung kepada pemilik hewan saat melakukan vaksinasi hingga penggunaan media sosial dan materi massa, untuk menjangkau sebanyak mungkin orang. Edukasi ini membantu masyarakat memahami pentingnya vaksinasi dan cara melindungi diri mereka dan hewan peliharaan mereka dari rabies," terang Agung kembali.
Setiap hari adalah perjuangan, tetapi juga sebuah harapan. Dengan dedikasi dan kerja keras, kita bisa menciptakan dunia yang lebih aman bagi hewan dan manusia. Terima kasih kepada semua relawan yang telah berkontribusi dalam misi mulia ini. (TESTI PRISCILLA/j)









