BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya Badan Narkotika Nasional (BNN) Kalimantan Tengah dalam melakukan tes urine terhadap sopir di empat travel pada Selasa (21/6/2016) tadi mendapat kritikan. Yang mengkritik bukan orang lain tapi juga sopir travel yang baru saja menjalani tes.

Adalah Kurnadi, sopir travel Tulus yang beralamatkan di Jalan G Obos, Palangka Raya. Dia menilai, jika tes urine dilakukan dengan cara demikian, maka petugas tidak akan mendapat apa-apa. Artinya hasilnya akan selalu terus negatif.

Dia pun menyarankan supaya tes urine itu dilakukan secara mendadak. Sebagai contoh, sopir terjaring razia. Pada saat itulah, langsung saja dilakukan tes urine dan dilanjutkan penggeledahan.

“Saya sangat mendukung dengan tes urine ini. Tapi kalau seperti itu, nggak bakalan dapat. Orang nggak bakalan datang. Tapi kalau di jalan, tidak bisa menghindari. Tidak bisa berkutik lagi,” saran Kurnadi saat berbincang dengan Borneonews, Selasa (21/6/2016).

Mengapa dia menyebut demikian?

Dengan didampingi rekannya Syahrudin, dia menceritakan kalau selama 10 tahun bekerja sebagai sopir travel, terhitung sejak 2012 sopir travel mulai banyak terlibat sebagai pengguna narkoba.

Kurnadi dan Syahrudin merupakan sopir travel jurusan Barito. Dia juga dilarang keluar dari jalur yang telah ditentukan. “Kalau jalur lain tidak tahu. Kami jalur Barito. Pokoknya hampir separuh sopir travel menggunakan narkoba,” katanya.

Dia mengaku sebenarnya miris melihat kondisi seperti itu. Sebab, sopir berhubungan dengan keselamatan orang banyak. Apalagi dari pengalamannya itu, dia menyebut sudah banyak korban kecelakaan gara-gara sang sopir mengkonsumsi narkoba.

“Jadi kalau menggunakan narkoba, jalan kaya milik sendiri. Semau guwe lah, seperti itu. Kalau mau nyelip, gak pandang tikungan atau tanjakan. Sehingga membahayakan orang lain. Untuk itu, harus diberantas,” tuturnya.

Sementara itu, Syahrudin menambahkan, pemerintah juga harus memberantas adanya travel liar. Pemerintah, lanjut dia, harus benar-benar bergerak supaya paling tidak travel liar di Palangka Raya berkurang.

“Pertama dilihat dari plat. Kalau platnya N itu bukan travel. DA pun juga bukan karena untuk Kalsel. Jadi travel resmi itu ya KH dan plat kuning,” kata Syahrudin. (BUDI YULIANTO/m)