BORNEONEWS, Palangka Raya –  Sejumlah siswa Kalimantan Tengah akan dilepas menuju Bali, Selasa (2/8/2016) malam ini. Pertukaran pelajar itu sebagai program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) yang diinisiasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebelumnya, (Senin, 1/8/2016), sebanyak 20 pelajar asal Provinsi Bali diterima di Palangka Raya, 

Para siswa ini diseleksi yang secara teknis diserahkan di Dinas Pendidikan masing-masing provinsi. Pihak BUMN hanya memfasilitasi keberangkatan. Tidak hanya Kalimantan Tengah dan Bali, program BUMN ini menyasar sejumlah provinsi lain yang cakupan BUMN beroperasi. Pertukaran pelajar Bali dan Kalimantan Tengah adalah program Pelindo III beserta Bahana Securities dan Semen Baturaja.

Sama halnya yang ke Kalteng, kegiatan pelajar di Bali juga menyasar beberapa tempat selama sepekan penuh. Mereka akan dibaurkan dengan masyarakat, menginap di tempat penduduk, melihat sekolah unggulan, kunjungan enterpreneurship UMKM ke mitra binaan BUMN, dan mengenal tempat wisata khas daerah. 

“Program SMN mengusung tema ‘Indonesia Negeri Kebanggaanku’, sebagai bentuk kontribusi BUMN dalam membangun kapasitas nasional yang tidak hanya dari sisi bisnis dan perekonomian, tetapi juga melalui generasi penerus bangsa,” terang Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, Selasa (2/8/2016).

Mereka, kata Edi, ditugasi menyusun tulisan dengan gaya bercerita yang memuat pengalaman dalam perjalanannya, yang nantinya akan dijadikan sebuah buku. Namun tidak semuanya berkesempatan masuk ke dalam buku yang disusun pihak BUMN, akan tetapi diseleksi tiga penulis terbaik dari tiap provinsi yang akan dimasukkan sebagai buku. 

Tujuan utama program dalam rangka memeriahkan HUT RI ini, adalah untuk menanamkan pelajar bagaimana memupuk rasa kejuangan dan bangga memiliki nusantara. Menariknya, di 2016 yang merupakan tahun kedua program SMN ini, pihak BUMN juga memasukkan pelajar yang berkebutuhan khusus atau difabel yang belajar di SLB untuk ikut program. 

“Kalau bagi siswa, bertujuan agar mereka lebih mengenal bahwa indonesia itu kaya tentang budaya, kaya dengan hasil bumi, bangga dengan potensi alamnya dan keragaman istiadatnya. Kita ingin menunjukkan bahwa mereka tidak boleh hanya berfikir dari dan untuk daerah sendiri. Mereka harus tahu daerah lain, sehingga mereka bisa ada ide untuk membangun daerah lain,” sebut Edi.

“Selama ini kan diciptakan kedaerahan, ini gak bagus. Jadi antardaerah harus seimbang, jangan sampai antara Jawa dan Bali atau daerah lainnya tidak seimbang. Nah pelajar ini kan generasi penerus, jadi calon pemimpin masa depan, mereka harus tahu. Ini tugas bersama, mereka masih belajar dan mereka harus dikembangkan sehingga ada mindsetnya bagaimana antar-daerah dibangun secara bersama,” tandasnya lebih lanjut. (ROZIKIN/m)