BORNEONEWS, Sampit - Warga Jalan Kapten Mulyono Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, menyerahkan seekor anak orangutan (pongo pygmaeus) peliharaan bernama Mumuy kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit, Minggu (21/8/2016).
Saat penyerahan berlangsung, keluarga ibu Seliana yang sudah merawat seekor anak orangutan betina itu hampir setahun itu sangat merasa kehilangan. Anak perempuan Seliana yang merasa dekat dengan Mumuy berontak, tidak rela menyerahkan Mumuy kepada petugas BKSDA.
Dia menganggap Mumy seperti adiknya, karena setiap hari dia mandikan dua kali sehari, memberi makan, minum susu layaknya merawat anak manusia. Namun mereka sadar bahwa hewan dilindungi tersebut harus dikembalikan ke habitatnya.
“Gimana tidak sedih, sudah setahun kami rawat seperti anak manusia. Disana tolong dikasih makan ya pak,” kata Seliana.
Diceritakan Seliana, seekor anak orangutan betina yang umurnya diperkirakan dua tahun itu, ditemukan oleh seorang warga di Desa Seragam Jaya Kecamatan Seranau Kotim pada 2015 lalu. Pada saat itu, kondisi Mumuy tidak terawat, badannya kurus.
“Kebetulan saat itu adik ipar saya Fiki jalan-jalan ke Desa Seragam Jaya untuk mencari sapi, melihat ada anak orangutan dipelihara warga. Kondisinya sangat memperihatinkan. Dipelihara dikandang ayam dekat kandang sapi, lalu diminta oleh adik ipar ini dan dibawa ke rumah ini. Sekarang badannya sudah bagus, gemuk, bersih,” ucap Lesiana.
Sementara itu, Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah mengapresiasi kesadaran warga yang sudah menyerahkan anak orangutan betina itu secara sukarela kepada pihaknya.
“Kami berterima kasih karena kesadaran masyarakat untuk turut menyelamatkan satwa langka makin meningkat. Memelihara orangutan bisa mengancam keselamatan orangutan itu, juga bagi yang memeliharanya karena bisa tertular penyakit,” kata Muriansyah.
Diukatakan Muriansyah, anak orangutan ini akan dibawa ke Pangkalan Bun untuk observasi, kemudian akan dilepasliarkan di Suaka Margasatwa jika kondisinya dinilai sudah siap.
Hasil penelusuran BKSDA, kini banyak orangutan yang terpaksa mencari makan di kebun dan permukiman karena hutan yang menjadi habitat mereka, makin berkurang akibat kebakaran lahan maupun dampak pembukaan areal untuk perkebunan kelapa sawit.
Masyarakat diingatkan untuk tidak memelihara orangutan karena melanggar hukum. Satwa langka itu juga rentan menularkan berbagai penyakit seperti tubercolosis, hepatitis, rabies dan lainnya. Selain itu, orangutan rentan mati akibat cara pemeliharaan yang salah jika dipelihara warga. (RAFIUDIN/m)








