BORNEONEWS, Sampit - Tingkat penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data yang dihimpun Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kotim, angka penyalahgunaan narkoba di Kotim mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus dan tersangka sepanjang tahun 2024.
"Kotim bisa dikatakan sebagai zona hitam penyalahgunaan narkoba," kata Kepala Kesbangpol Kotim, Sanggul Lumba Gaol, melalui Sekretarisnya Eddy Hidayat Setiadi, Senin 25 November 2024.
Eddy menjelaskan bahwa berdasarkan data yang mereka miliki hingga Juli 2024, tercatat 107 kasus penyalahgunaan narkoba dengan 117 tersangka. Barang bukti yang disita meliputi 2.285 gram sabu dan 114 gram ganja. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat hingga Desember nanti.
"Jika dibandingkan dengan Tahun 2023, angka tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tahun lalu, tercatat 188 kasus dengan 204 tersangka," tambahnya.
Eddy mengungkapkan, tren kenaikan dilihat dari grafik, penyalahgunaan narkoba naik dari Tahun 2021-2024. Pasalnya pada Januari-Juli 2024 sudah ada 117 tersangka.
"Jumlah itu belum sampai Desember. Apalagi baru-baru ini lumayan banyak Polres Kotim menangani penyalahgunaan narkoba dan peredaran. Hal ini menjadi perhatian serius bagi kami dan semua pihak terkait," terangnya.
Eddy menjelaskan bahwa peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba di Kotim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain mudahnya akses di Kotim.
Peredaran narkoba di Kotim semakin mudah, dengan berbagai jalur masuk yang sulit dipantau. Ditambah lagi, tingginya permintaan karena di Kotim, banyak pendatang dari luar daerah yang bekerja di perkebunan sawit di Kotim.
"Sebagian pekerja di kebun itu menggunakan narkoba untuk menambah stamina katanya. Padahal itu tidak benar," ucapnya.
Ia menekankan bahwa penanganan penyalahgunaan narkoba membutuhkan upaya yang terpadu dan komprehensif. Dirinya berharap dengan adanya Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) di Kotim dapat meminimalisir penyalahgunaan tersebut.
"Kami juga terus berupaya melakukan pencegahan. Namun, upaya ini membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat, tokoh agama, dan lembaga pendidikan. Kami mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan jika mengetahui adanya peredaran narkoba di lingkungan sekitar. Kerjasama dan kepedulian masyarakat sangat penting dalam upaya pemberantasan narkoba," tegas Eddy. (DEVIANA/H)









