BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana alam selama musim kemarau.
"Kemaraunya singkat, sekitar tiga bulan, tetapi harus kita waspadai bersama. Mudah-mudahan Agustus atau September sudah hujann," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu, 16 April 2025.
Berdasarkan koordinasi dengan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, intensitas hujan diperkirakan berkurang mulai Juli. Oleh karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan pada Agustus dan September, terutama untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Diprediksi pula kemarau tahun ini lebih panas dibanding tahun lalu. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara pembakaran karena akan menimbulkan dampak luas," tegas Multazam.
Ia mengingatkan pengalaman karhutla parah pada tahun 2015, 2019, dan 2023, di mana kebakaran lahan terjadi hampir setiap hari.
Wilayah-wilayah rawan karhutla seperti Kecamatan Teluk Sampit, Seranau, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Cempaga, dan beberapa lokasi di Kecamatan Parenggean perlu waspada ekstra.
"Daerah-daerah kebakaran hutan sering terjadi di lokasi yang tidak mudah dijangkau sehingga petugas kesulitan. Kita berharap masyarakat atau pelaku dunia usaha agar disiplin mempersiapkan peralatan dan personel dalam mengantisipasi karhutla, " imbuhnya.
BPBD telah melakukan persiapan sejak April dan akan melanjutkan upaya kolaborasi dengan dunia usaha, Manggala Agni, dan BKSDA, termasuk memastikan ketersediaan air dan perawatan embung.
"Kami mulai bergerak pada April ini dan Mei nanti. Seluruh persiapan, termasuk peralatan harus kita lakukan perawatan atau perbaikan sehingga ketika terjadi situasi darurat bisa langsung digunakan," pungkas Multazam
BPBD Kotim berharap karhutla tahun ini dapat ditanggulangi bersama tidak hanya tanggung jawab BPBD, tetapi juga semua unsur karena kebencanaan itu merupakan urusan bersama sehingga seluruh sektor harus terlibat di dalamnya.
Ia juga mengimbau sektor pertanian untuk waspada terhadap ancaman kekeringan agar tidak mengganggu swasembada pangan.
"Jangan sampai kekeringan dan kalaupun terjadi kekeringan maka harus diinformasikan secepatnya sehingga bisa dilakukan antisipasi situasi darurat agar tanaman yang ditanam itu tetap tumbuh lebih baik," imbuhnya. (DEVIANA/H)









