BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menyampaikan bahwa penyaluran kredit di wilayah ini pada Januari 2025 masih didominasi oleh kredit konsumtif.
"Dari total kredit sebesar Rp45,64 triliun, kredit konsumtif mencapai Rp18,04 triliun atau 39,63 persen. Sementara itu, kredit modal kerja tercatat sebesar Rp15,54 triliun atau 34,10 persen dan kredit investasi Rp13,06 triliun atau 26,27 persen," kata Primandanu pada Rabu, 16 April 2025.
Hal ini disampaikan Primandanu dalam Media Update Batang Garing atau Berbagi Berita tentang Perkembangan Industri Jasa Keuangan, Sosialiasi Pengenalan Pasar Modal Indonesia dan Halal Bihalal bersama insan pers pada Rabu, 16 April 2025.
Memimpin kegiatan ini Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz serta Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia atau BEI Kalimantan Tengah, Stephanus Cahyo Adiraja
menyampaikan sosialisasi pasar modal.
"Lima sektor ekonomi utama menjadi pengguna fasilitas kredit terbesar. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan memimpin dengan penyerapan kredit sebesar Rp14,46 triliun atau 29,14 persen dari total kredit," katanya.
Menariknya, rasio kredit bermasalah atau on-Performing Loan/NPL sektor ini tergolong rendah, hanya 0,71 persen.
Sektor pemilikan peralatan rumah tangga lainnya, termasuk pinjaman multiguna, berada di posisi kedua dengan total kredit Rp13,90 triliun atau 28,01 persen. Namun, NPL sektor ini lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian, mencapai 1,16 persen.
"Sektor perdagangan besar dan eceran menyusul dengan kredit sebesar Rp9,31 triliun atau 18,77 persen, tetapi menghadapi NPL yang relatif lebih tinggi, yakni 2,38 persen. Sementara itu, sektor pemilikan rumah tinggal mencatat penyaluran kredit Rp5,43 triliun atau 10,94 persen dengan NPL tertinggi di antara kelima sektor, yaitu 2,72 persen," jelasnya.
Terakhir, sektor industri pengolahan tercatat menyerap kredit Rp1,11 triliun atau 2,24 persen dari total kredit, dengan NPL yang cukup rendah, yaitu 0,80 persen.
“Kami terus mendorong agar penyaluran kredit dapat lebih produktif dan tetap menjaga rasio NPL dalam tingkat yang terkendali,” kata Primandanu.
Primandanu menegaskan komitmen OJK untuk terus memantau dan memastikan keberlanjutan sektor keuangan di Kalimantan Tengah. Langkah-langkah strategis diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung sektor prioritas yang memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat. (TESTI PRISCILLA/j)









