PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyoroti dampak penurunan Nilai Tukar Petani atau NTP yang terjadi pada April 2025, terutama bagi peternak ayam. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kalteng, Sri Widanarni, menyampaikan bahwa penurunan NTP sebesar 1,01 persen, dari 135,52 pada Maret 2025 menjadi 134,15 pada April 2025, memberikan tantangan bagi peternak ayam di daerah Kalteng.

Menurut Sri Widanarni, subsektor peternakan mengalami penurunan paling besar dibandingkan sektor lainnya, yaitu mencapai 1,46 persen.

"Peternak ayam merasakan dampak langsung dari fluktuasi harga pakan dan operasional yang semakin meningkat. Sementara harga jual ayam cenderung stagnan, membuat margin keuntungan semakin tergerus," kata Sri saat menghadiri penyampaian berita resmi statistik oleh BPS Kalteng pada Jumat, 2 Mei 2025.

Selain faktor harga pakan, Sri juga menyoroti kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga atau IKRT sebesar 0,42 persen, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang meningkat 6,42 persen.

"Kenaikan biaya hidup ini semakin membebani peternak ayam, terutama bagi mereka yang bergantung pada usaha kecil dan menengah," tambahnya.

Pemprov Kalteng berupaya mengatasi tantangan ini dengan berbagai strategi, termasuk mendorong stabilisasi harga pakan dan memberikan dukungan kepada peternak melalui program subsidi.

"Kami akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan harga pakan tetap terkendali dan mendukung produktivitas peternak," jelas Sri.

Sri Widanarni juga mengimbau peternak untuk memperkuat daya saing dengan berinovasi dalam manajemen usaha dan diversifikasi produk.

"Kami akan terus melakukan pendampingan agar peternak mampu beradaptasi dengan dinamika pasar dan tetap berdaya saing," tutupnya.

Pemerintah berharap langkah-langkah ini dapat membantu peternak ayam menghadapi tantangan ekonomi yang tengah terjadi. (TESTI PRISCILLA/j)