SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah berharap satuan pendidikan yang ada dibawah naungan Dinas Pendidikan Kotim menerapkan bahan ajar berbasis deep leraning ke depannya. 

"Deep learning merupakan program dari kementerian dan itu sudah kami sosialisasikan juga," katanya, Kamis, 8 Mei 2025.

Irfan mengungkapkan belum lama ini pihaknya telah menggelar pelatihan (Diklat) dan workshop pembuatan bahan ajar berbasis deep learning tersebut kepada guru yang ada di Kotim. 

“Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur melaksanakan Diklat workshop pembuatan bahan ajar berbasis deep learning. Memang program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk tahun ini," ucapnya. 

Kegiatan tersebut merupakan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.  

Bahan ajar deep learning sendiri merupakan upaya untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) khususnya deep learning ke dalam proses pembelajaran.  Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan dengan memanfaatkan potensi AI dalam personalisasi pembelajaran,  pengayaan konten, dan asesmen.  

Ia menegaskan bahwa deep learning bukanlah pengganti guru, melainkan alat bantu untuk meningkatkan peran guru.

"Jadi tetap kurikulumnya Merdeka, namun ada perbedaan bahan ajarnya lebih menggunakan teknologi. Dengan adanya workshop ini, nantinya bisa ada bahan ajar deep learning di sekolah masing-masing,” jelas Irfansyah.

Diklat yang dilakukan pada Selasa (6 Mei 2025) tersebut diikuti oleh 50 peserta.  Rencananya kegiatan tersebut kembali digelar yang dikhususkan untuk guru mata pelajaran lainnya. 

Ini kan masih guru kelas, nanti ada mapel ke depannya, agama Islam. Nah mungkin nanti yang lainnya akan muncul, mungkin olahraga lagi ya,” tambahnya.

Irfansyah menjelaskan perbedaan deep learning dengan metode pembelajaran sebelumnya tidak terlalu signifikan.  Perbedaan utamanya terletak pada pemanfaatan teknologi.

“Memang ada sih perbedaannya deep learning dengan kurikulum, cuma tidak terlalu signifikan. Ada bahan-bahan ajarnya hampir mirip-mirip saja, cuma yang membedakan memang sekarang berbasis teknologi semua,” terangnya.

Ia berharap para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dan menularkannya kepada rekan guru lainnya.

“Dari guru satu atau dua, nanti bisa menularkan ke guru-guru yang lainnya di sekolah tersebut. Bagaimana bahan ajar deep leranng itu,” pesan Irfansyah. (DEVIANA/H)