BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah mencatat terjadi penurunan nilai saham secara tahunan atau year-on-year/yoy pada April 2025. Nilai saham turun sebesar Rp308,78 miliar atau 9,18 persen dari Rp3.362,90 miliar pada April 2024 menjadi Rp3.054,11 miliar pada bulan yang sama tahun ini.
Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk kondisi global dan kebijakan sektor keuangan nasional yang membuat sebagian investor mengambil posisi wait and see.
“Penurunan nilai saham tidak serta-merta mencerminkan minat investasi yang melemah, karena masih terdapat geliat transaksi yang cukup kuat di pasar modal Kalteng,” ujarnya pada Rabu, 18 Juni 2026.
Buktinya, lanjut Primandanu, justru terjadi peningkatan signifikan pada nilai transaksi saham di bulan April 2025. Tercatat, nilai transaksi saham melonjak sebesar Rp458,29 miliar atau 215,63 persen yoy dari Rp212,54 miliar menjadi Rp670,83 miliar.
Peningkatan aktivitas transaksi tersebut menurutnya menandakan bahwa dinamika pasar saham di Kalteng tetap bergairah.
“Investor masih aktif melakukan pembelian dan penjualan saham. Ini menjadi indikator positif bahwa kepercayaan terhadap pasar modal di wilayah ini cukup terjaga,” jelasnya.
OJK Kalteng terus mendorong literasi dan inklusi keuangan agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi dengan bijak, termasuk melalui edukasi publik dan kolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia atau BEI dan pelaku industri pasar modal lainnya.
Primandanu juga menambahkan bahwa OJK akan terus memantau pergerakan pasar dan menjaga stabilitas sektor keuangan di Kalimantan Tengah.
“Kami berkomitmen untuk menjaga iklim investasi yang sehat dan terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan pasar modal,” tutupnya. (TESTI PRISCILLA/H)









