SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Pendidikan (Disdik) Kotawaringin Timur (Kotim) mengapresiasi karya para pelajar yang mengangkat isu perundungan (bullying) dalam bentuk film pendek berjudul Ternyata Aku Korban. Film tersebut dinilai sebagai media edukasi yang efektif untuk membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya mencegah tindakan kekerasan di lingkungan sekolah.

“Film ini adalah karya luar biasa anak-anak kita. Meski sudah diunggah ke platform YouTube, kami ingin lebih banyak siswa menontonnya di sekolah agar pesan moralnya sampai. Apalagi ini menyangkut isu serius seperti bullying,” kata Irfansyah saat nonton bareng (nobar) film Ternyata Aku Korban di Gedung Serba Guna Sampit, Kamis, 7 Agustus 2025.

Dalam film tersebut, ditampilkan berbagai bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, bahkan yang dianggap bercanda namun berpotensi melukai perasaan korban. Irfansyah menekankan pentingnya membangun empati dan kesadaran siswa untuk menghindari tindakan yang bisa merugikan teman sebaya.

“Kadang anak-anak hanya bercanda, tapi ternyata menyakitkan secara mental. Contohnya komentar soal rumah banjir atau kondisi keluarga, itu bisa kena mental. Ini harus menjadi pelajaran agar anak-anak lebih bijak dalam berinteraksi,” ujarnya.

Dirinya yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKS) Kotim mengimbau siswa untuk berani melaporkan kasus bullying kepada guru, kepala sekolah, atau langsung ke tim PPKS yang sudah terbentuk di setiap satuan pendidikan.

Tidak hanya siswa, film tersebut juga menyoroti kasus perundungan yang dialami guru, khususnya guru honorer atau guru pendatang. Kasus bullying terhadap guru tersebut misalnya ada guru baru yang mendapat perlakuan tidak pantas hanya karena bukan asli daerah.

“Ada guru pendatang yang niatnya menegur siswa, tapi justru dilawan dengan alasan bukan orang sini. Ini juga bentuk perundungan yang perlu ditindak. Kami siap mendampingi guru-guru jika ada kasus serupa,” katanya.

Disdik Kotim menegaskan, apabila kepala sekolah atau guru merasa segan karena faktor eksternal seperti tekanan dari komite sekolah atau tokoh masyarakat, maka laporan bisa langsung disampaikan ke dinas atau Satgas PPKS. (DEWI PATMALASARI/y)