BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam semangat membentuk generasi muda yang cerdas finansial, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah siap berkolaborasi dengan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalimantan Tengah.
Kepala OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, menyampaikan bahwa kerja sama ini akan diwujudkan melalui implementasi Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Penabung dan Cakap Keuangan.
“Kami ingin agar Pramuka Kalteng tidak hanya disiplin secara karakter, tetapi juga tangguh secara finansial,” kata Primandanu pada Sabtu, 16 Agustus 2025.
Primandanu menambahkan, pendekatan edukasi keuangan yang terintegrasi ini akan menyasar seluruh anggota Pramuka, termasuk Pramuka berkebutuhan khusus.
“Literasi keuangan harus inklusif. Melalui kebiasaan menabung dan pemahaman dasar pengelolaan keuangan, kita membekali generasi muda dengan keterampilan hidup yang esensial,” katanya.
Program ini diharapkan menjadi fondasi bagi Pramuka Kalteng untuk tumbuh sebagai individu yang mandiri dan berdaya saing.
Program ini merupakan bagian dari gerakan nasional Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) yang digagas oleh Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK).
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut LIKE IT sebagai bentuk sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS.
“Tujuannya adalah meningkatkan literasi keuangan dan memperluas basis investor ritel,” jelasnya.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen, sementara inklusi keuangan berada di angka 80,51 persen. Namun, kelompok usia 15–17 tahun masih menunjukkan angka literasi yang rendah, yakni 51,68 persen.
“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat edukasi keuangan sejak dini,” ujar Friderica.
Friderica menegaskan bahwa program LIKE IT sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Literasi keuangan adalah fondasi penting agar generasi muda Indonesia tumbuh menjadi SDM unggul dan siap menghadapi tantangan global,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh, termasuk bagi kelompok difabel.
Dalam sesi Leaders Insight, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menggarisbawahi pentingnya menabung sebagai kebiasaan keuangan yang membentuk karakter.
“Menabung melatih disiplin dan hidup hemat. Ini sejalan dengan nilai-nilai kepramukaan,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa 59 juta pelajar Indonesia telah memiliki tabungan dengan total lebih dari Rp32 triliun, sebuah capaian yang patut diapresiasi.
Mahendra juga menyampaikan bahwa tabungan adalah produk keuangan yang paling mudah diakses dan dapat dimanfaatkan oleh Pramuka untuk merencanakan masa depan.
“Kebiasaan menabung bukan hanya memperkuat kemandirian, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Ia berharap kebiasaan ini terus ditanamkan melalui kegiatan kepramukaan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesetaraan, OJK bersama Kemenkeu, BI, dan LPS juga meluncurkan Pedoman Akses Pelayanan Keuangan untuk Disabilitas Berdaya (Setara).
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh penyelenggara jasa keuangan memberikan akses yang aman dan nyaman bagi difabel,” ujar Friderica.
Dengan pendekatan inklusif ini, OJK berharap literasi keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









