BORNEONEWS, Pangkalan bun -- Beberapa tahun terakhir konflik warga dan satwa liar, khususnya orangutan, kian sering terjadi. Pada tahun 2015 yang lalu, tim rescue Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng dan Orangutan Foundation United Kingdom (OFUK), berhasil menyelamatkan 17 orangutan liar yang berkonflik dengan manusia dari empat kabupaten di Kalteng. Bahkan beberapa pekan terakhir 2 orangutan diselamatkan karena berkonflik di Kotawaringin Barat (Kobar) dan Kotawaringin Timur (Kotim).
Program Manager OFUK, Ade Suharso menyebut, konflik orangutan dan warga sejauh ini tercatat banyak terjadi Kobar, Kotim, Seruyan, dan Lamandau. Pada 2015 lalu, dari 17 orangutan liar yang diselamatkan, 6 di antaranya berasal dari Kotim. Hal tersebut menunjukkan bahwa Kotim menghadapi masalah cukup serius, terkait konflik manusia dengan orangutan.
Menurut Ade, konflik antara manusia dengan orangutan terjadi karena semakin berkurangnya habitat orangutan liar. Akibat kebakaran hutan tahun 2015 dan juga akibat konversi hutan yang sejak dahulu merupakan habitat asli orangutan, untuk tujuan lain.
"Oleh sebab itu, beberapa orangutan kemudian masuk ke areal perkebunan dan permukiman penduduk, sehingga orangutan liar tersebut perlu segera diselamatkan untuk menghindari dampak yang lebih buruk. Baik bagi keselamatan orangutan tersebut, maupun keselamatan dan kerugian material warga masyarakat," terang Ade Suharso, Rabu (2/11).
Dijelaskannya, pada 31 Oktober kemarin, satu oangutan liar berjenis kelamin betina berusia sekitar 5-6 tahun yang ditangkap warga Desa Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur pada 15 Oktober lalu, dilepasliarkan oleh BKSDA Kalteng, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, OFUK dan Centre Orangutan Protection (COP) di Suaka Margasatwa (SM) Sungai Lamandau.
Oangutan yang kemudian diberi nama Rawit tersebut, ditangkap oleh warga desa karena kerap masuk ke kebun dan pondok warga. Sebelumnya, Rawit terpaksa harus menjalani perawatan oleh tim dokter hewan OFUK. Akibat luka pada pergelangan kaki yang didapat dari ikatan tali yang sangat kuat, pada saat penangkapan oleh penduduk.
Rawit merupakan orangutan liar ke-11 dari 12 orangutan yang berhasil diselamatkan (rescue) oleh tim rescue BKSDA Kalteng-SKW II Pangkalan Bun bekerja sama dengan OFUK sampai dengan akhir bulan Oktober 2016. Rawit juga merupakan orangutan liar ke-7 yang berhasil diselamatkan dari Kotim sampai dengan Oktober 2016 lalu.
Sementara, pada 26 Oktober lalu. Satu orangutan jantan dewasa berusia sekitar 10 tahun juga diselamatkan oleh tim rescue BKSDA dan OFUK karena keberadaannya dikhawatirkan memicu konflik dengan warga di sekitar jalan Kolam Kobar. Orangutan yang diberi nama Kolam tersebut merupakan orangutan ke-12 yang berhasil diselamatkan, oleh tim rescue gabungan BKSDA OFUK, sepanjang hingga Oktober 2016 lalu.
"Orangutan bernama Kolam itu juga merupakan orangutan ke-9 yang berhasil diselamatkan dari jalan poros Pangkalan Bun-Kolam, sepanjang tahun 2015 sampai tahun 2016. Hal itu menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan kantong populasi dan memang habitatnya orangutan." (RD/*)








